Surodipo Tokoh Banyak Nama


Untuk memahami sejarah perang jawa secara utuh haruslah mengenal dengan cermat nama para pelaku yang terlibat di dalamnya. Perlu diingat bahwa dalam peperangan yang melelahkan itu dilakukan banyak sekali tindakan rahasia  (conspiracy of silent) dan tipu daya untuk memenangkan pertarungan. Sudah menjadi hal yang lazim bila para pelaku utama menggunakan nama-nama samaran untuk mengelabuhi atau mengaburkan analisa musuh.

Dalam tradisi masyarakat jawa dikenal adanya nama gharbapati (nama kecil) dan nama abhiseka (nama tua/nama jabatan). Sebagai contoh Pangeran  Diponegoro waktu dilahirkan bernama Raden Mustahar, ketika remaja bernama Raden Ontowiryo, ketika ayahandanya menjadi Sultan (HB III) namanya Pangeran Diponegoro dan ketika perang jawa namanya Sultan Abdul Khamid Erucakra. Dengan demikian yang sesungguhnya terjadi satu orang sudah menggunakan nama yang berbeda-beda dalam kurun waktu yang berbeda pula. Hal ini menjadi sangat penting agar pemahaman kita tidak rancu, sebab ketika perang jawa berkobar yang menggunakan nama Pangeran Diponegoro adalah putra Sultan Abdul Khamid.

Surodipo juga mengalami beberapa kali pergantian nama dalam perjalanan hidupnya, hanya saja karena beliau bukan dari kalangan keluarga bangsawan utama, namanya hampir tidak tercatat dalam babad yang ditulis oleh sastrawan pada waktu itu. Kalaupun ada yang mencatat namanya hanyalah saat beliau memegang jabatan tertinggi di kraton Ngayogyakarta, itupun tidak menjelaskan latar belakang Surodipo secara rinci.

Riwayat Surodipo justru ditemukan dalam babad (biografi) yang ditulis oleh Pangeran Diponegoro saat beliau berada dalam pengasingan di Menado. Kisah dalam biografi tersebut menggambarkan kedekatan yang sangat mendalam antara Pangeran Diponegoro dengan Surodipo, bahkan beberapa hal yang paling rahasiapun dibeberkan secara gamblang. Nama-nama yang pernah digunakan Surodipo adalah sebagai berikut :

Raden Joyosentiko, nama ini dipakai ketika masih menjadi abdi kepercayaan Pangeran Adipati Anom (ayahanda Pangeran Diponegoro, kelak HB III).

Tumenggung Sumodipuro, nama ini dipakai ketika menjabat Bupati Japan (Mojokerto). Beliau memperoleh kepercayaan menjadi bupati karena jasa-jasanya ketika muncul pemberontakan Sepoy, dan juga karena jasanya dalam proses pergantian pucuk kekuasaan dari HB II kepada HB III.

Raden Adipati Danurejo IV (Patih Danurejo IV), nama jabatan tertinggi yang dicapai dalam karir politik Surodipo. Pengangkatan dalam jabatan ini diraih karena usul John Crawfurd (Residen Yogyakarta) dan didukung oleh Pangeran Diponegoro. Beliau memegang jabatan ini dalam kurun waktu lebih dari 30 tahun (1813-1847),  adalah waktu yang sangat lama untuk jabatan politik kenegaraan.

Pangeran Kusumoyudo, nama kehormatan anugerah dari pemerintah Hindia Belanda sebagai penghargaan atas prestasi dan jasa-jasa Patih Danurejo IV selama menjalankan tugasnya. Penghargaan tersebut diberikan saat dilaksanakan acara serah terima jabatan (purna tugas) Patih Danurejo IV. Selanjutnya jabatan Patih Ngayogyakarta digantikan Tumenggung Gandakusuma dengan memakai nama jabatan Raden Adipati Danurejo V (Patih Danurejo V)

Surodipo, nama yang dipakai setelah terbebas dari urusan pemerintahan dan menjadi rakyat biasa yang berbaur di tengah-tengah masyarakat.  Pada jamannya dulu nama yang satu ini sangat populer di kalangan masyarakat jawa. Menurut cerita tutur yang berkembang di masyarakat, Surodipo sering berpindah-pindah dari tempat yang satu ke tempat yang lain. Pergaulan Surodipo sangat luas di kalangan masyarakat bawah, tetapi hampir tidak ada yang mengetahui Surodipo adalah mantan penguasa tertinggi dalam pemerintahan di Kasultanan Yogyakarta, karena Surodipo sendiri tidak pernah menceritakan masalah tersebut kepada orang lain.

Berdasarkan beberapa bukti sejarah dan cerita tutur dari para keturunannya yang tersebar di berbagai tempat, ada dugaan kuat Surodipo menghabiskan masa akhir hidupnya di kawasan Gunung Prahu Kabupaten Temanggung. Di kawasan ini beliau mendirikan pesantren untuk menyebarkan agama Islam. Untuk mengenang kesejarahan Surodipo, Pemerintah Kabupaten Temanggung mengabadikan nama Surodipo sebagai nama tempat obyek wisata air terjun yang semula bernama Curug Trocoh menjadi Curug Surodipo.

Dalam penulisan artikel berikutnya saya akan menggunakan nama-nama tersebut di atas sesuai dengan waktu terjadinya peristiwa. Tetapi pada prinsipnya tokoh yang saya masksudkan adalah menunjuk  satu orang, yakni :  Joyosentiko = Tumenggung Sumodipuro = Patih Danurejo IV = Pangeran Kusumoyudo = Surodipo.

SEBELUMNYA << (klick)

BERIKUTNYA >> (klick)

27 Tanggapan to “Surodipo Tokoh Banyak Nama”

  1. wah, pak. saya suka blog ini karena memuat satu riwayat sejarah yang saya belum tahu. salam kenal. :)

    Sudradiningrat : Saya hanya tahu sedikit sekali tentang sejarah jawa. Kang Nur masih muda dan punya potensi untuk membongkarnya, karya anda akan sangat berguna bagi orang banyak. Terima kasih kunjungannya.

  2. wah saya juga suka blog ini apalagi tentang sejarah.. kebetulan saya juga orang asli jogja walaupun keturunan dari rakyat jelata. tetapi saya suka sejarah terutama sejarah dari demak-jipang-pajang-mataram-mataram jadi 2 solo-Jogja sampai kemerdekaan.. dan lainnya saya yang belum tahu, salam.. kenal

    Sudradiningrat : Saya juga wong sudra dan tidak paham ningrat pak, ayah saya dari Bantul. Kalau bapak juga suka sejarah jawa, berarti kita bisa berbagi… sama-sama belajar. Matur nuwun kersa rawuh ke blog saya..

  3. Setyo Edi Says:

    Content blog ini nyleneh, berisi penentangan terhadap sejarah yang sudah mapan. Tapi bagus juga, saya senang. Eksplorasi seperti ini dapat menjadi ide bagi teman-teman yang sedang meneliti di bidang sejarah.

    Sudradiningrat : Bukan penentangan sejarah pak, tapi memang seperti itu hukum penulisan sejarah. Setiap ada temuan data baru, alur sejarah akan mengalami perubahan. Terima kasih atas kunjungannya.

  4. Lanjutkan penulisan tentang sejarah Pak Sudra, kenapa takut jika memang ada sumbernya, memang sejarah sekarang banyak yang diputar balik yang berakibat pada generasi penerus.. lanjutkan penulisan tentang sejarah pak sudra..terutama tentang antek-antek kompeni seperti Patih Danureja yang asli pribumi tetapi hidupnya seperti Kompeni

    Sudradiningrat : Matur nuwun doronganipun, Insya Allah tulisan di blog ini akan saya rampungkan sampai batas sepengetahuan saya.

  5. Pak Sudra..saya pernah mendengar cerita tentang Pangeran Diponegoro makamnya yang asli konon ada di Plosokuning dekat Masjid Patok Nagoro Sleman (bukan di Makasar-Sulawesi ) atau mungkin itu Makamnya Sultan Abdul Khamid Ya..
    Lanjutkan terus penulisananya.. terimakasih.

    Sudradiningrat : Bapak Wijaya Sudaryanta, saya tetap yakin makam Diponegoro tidak di tanah jawa. Saat Beliau wafat ada surat kematian resmi yang dibuat oleh dokter pemerintah Hindia Belanda. Yang di Sleman itu saya malah belum tahu. Trimakasih informasinya.

  6. Baik pak Sudra.. tentang makam Diponegoro saya dapat Informasi dari Solo seorang yang pernah Meditasi di makam tersebut benar & tidak maha kuasa yang tahu… saya tunggu tulisannya berkutnya maturnuwun

    Sudradiningrat : Inggih, lebih baik bersikap kados ngaten. Saya juga lebih percaya yang empirik.

  7. Saya tunggu tulisannya lagi…maturnuwun

  8. Danurejo IV ? bukankah dia antek belanda ? yang memerintahkan pemasangan patok2 di tanah pangeran ?
    dan banci yang lari terbirit-birit saat diancam pangeran diponegoro dengan keris makutowuluh ?

    PERGILAH KE NERAKA, DANUREJO IV !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

  9. Margo Basuki Says:

    Salam Kenal Pak Sudra……
    Saya adalah anak turun Surodipo…. karena suatu hal pernah saya cari makam Surodipo di Wonoboyo.. disana banyak anak turun Surodipo… disana ada makam mertua Surodipo…. dari keluarga disana diperoleh informasi tidak ada makam Surodipo.. saya dapat petunjuk atau informasi kalau makam beliau di desa Wonosari, Kec. Kangkung Weleri…. dan memang disana ada makam Surodipo dan dari ciri-ciri seperti dari priyagung dari Ngayojokarto, seorang ningrat, dan selanjutnya menjalani hidup seperti rakyat biasa… menjadi ulama… menurut cerita rakyat setempat makam beliau tidak boleh dibangun… dibiarkan sederhana

    Sudradiningrat: Terimakasih Pak Margo, saya menjawab lewat email penjenengan.

  10. Agung Gunawan Says:

    Pak Sudra, kulo kok dados puyeng tho, kalau saya ndak salah sewaktu muda surodipo itu berkawan akrab dengan P. Diponegoro. Tetapi kok kemudian dia malah menghianati P.Diponegoro setelah mukti. Apakah ini karena dia salah pergaulan (disebabkan dia bergaul dengan politik “kapiten cina”) dan kalau ditelusuri lagi pergaulan itu karena keadaan yg disebabkan juga oleh P.Diponegoro yg meminta P. Adipati Anom untuk menyertakan surodipo ke tegalrejo. Kebetulan mbah saya waktu jaman londo (1941 – 1944) jadi lurah londo karena saat itu menurut bapak saya mbah saya ini mau melindungi warganya. Tapi kemudian waktu 1947 mbah saya dia tangkap paksa oleh batalyon 426 dan dibunuh di daerah kedung jati. Jadi di satu sisi Patih Danurejo (surodipo) ini seorang birokrat dan disatu sisi seorang pengkianat. Kayak mbah saya, he he he

    Sudradiningrat : Matur nuwun awit kerawuhanipun mas Agung. Batas antara pahlawan dan pengkhianat memang tipis, tergantung dari siapa yang memandang. Menurut saya Patih Danurejo IV bukan pengkhianat, justru sebaliknya Sang Patih ini yang paling besar dukungannya kepada Diponegoro, terutama dari sisi politik dan militer. Dia telah menyiapkan prajurit dalam jumlah besar di seluruh Jawa sebelum pecah perang, buktinya Tumenggung Sumodipuro (Bupati Kertosono, putra Patih Danurejo IV) adalah orang yang paling pertama ikut mengobarkan perlawanan rakyat setelah Diponegoro memberontak.

  11. Agung Gunawan Says:

    Matur nuwun Pak Sudra penjelasannya, saya termasuk pemerhati sejarah jawa. Kulo tenggo cerito sak lajengipun.

  12. Fauzi Maulana Says:

    Saya masih bingung, pak. Berhubung saya sedang menulis sebuah novel yang kebetulan isinya ada tentang perang jawanya, saya sedang mencari tahu. Apakah Danurejo IV itu benar-benar seorang pengkhianat, atau dia justru membela perlawanan Pangeran Diponegoro? Mohon penjelasannya

    Sudradiningrat : Masalah ini sangat tergantung dari dasar pembuktian sejarah yg mas Fauzi gunakan, asal alasannya logis semuanya ‘syah-syah’ saja. Pendapat saya perang jawa adalah suatu conspiracy of silent yg sangat besar, sehingga yg tampak dari luar belum tentu sama dg kejadian sesungguhnya. Dan sangat mungkin terjadi kesalahan tafsir para sejarawan tentang perang jawa yg menghebohkan tersebut.
    Salah satu bukti kuat Danurejo IV berada di pihak Diponegoro adalah keterlibatan Tumenggung Sumodipuro (bupati Kertosono / anak Danurejo IV), yakni pada bulan Oktober 1825 Sumodipuro dan Tumenggung Wironegoro mengerahkan pasukan untuk menyerang orang-orang Cina. Pada tahun 1828 Sosrodilogo (pengikut Diponegoro) terdesak dalam pertempuran, salah seorang saudaranya yang bernama Raden Bagus mencari perlindungan di Kertosono, saat itu Sumodipuro tidak berada di tempat karena sedang memimpin pasukan bersama Diponegoro di wilayah Bagelen. Dan banyak bukti-bukti sejarah lainnya.

  13. @Pak Wijaya & Pak Suro
    Untuk mendapatkan informasi tentang makam Pangeran Diponegoro, silakan datang ke Plosokuning pak, carilah orang yang sepuh disitu, mungkin beliau mau menjelaskan tentang makam Pangeran Diponegoro.
    Saya juga pernah mendengar hal itu sewaktu di Plosokuning. Dulu katanya makam P. Diponegoro di Plosokuning mau diresmikan, namun gagal.
    Saat ini hal itu tidak diutak-atik lagi, mungkin berat merubah (buku) sejarah (SD).

    Sudradiningrat : Ini hanya salah satu bukti tafsir sejarah kt tidak pernah benar 100%. Matur nuwun.

  14. Bimo Jadmiko Says:

    saya prnah “dilihat” teman yg pnya “lebih”. Katanya saya sejak umur 11 th ditemani oleh “seseorang”, namanya SURODIPO.ciri2 yg digambarkan sama sperti yg di foto SURODIPO tsb.teman saya tahu nama & gambaran fisiknya,krn dia “bicara” lgsg dg SURODIPO.waktu tmn saya menanyakan kenapa ingin “menemani” saya, kata SURODIPO KE teman saya bilang krn itu tugasnya dia.saya ingin tahu kebenarannya,mungkin pak Sudra bisa meberi enjelasn ke saya.mungkin lewat email lebih privacy pak sudra.
    sebelumnya maturnuwun sing kathah..

  15. Bimo Jadmiko Says:

    salam pak sudra,
    melanjutkan pernyataan sya yg td, sampai sekarng pun sya merasakn dlm diri sya sering merasakan “kehadiran seseorang”.tp sya tdk tahu pasti siapa itu.3 atau 4 th lalu sya “sering mengundang” SURODIPO, seperti petunjuk teman sya tsb.dan saya merasakan metabolisme tubuh sya ada perubahan.sya stengah sadar,stengah tdk sadar.seperti kerasukan.Tp menurut teman2 sya,ketika ketika sya kerasukan,duduk sya bersila dg tangan sperti org bertapa dan suara sya juga berubah lebih berat,dan sya bcara jawa halus.pdhal sya tdk terlalu bs bhsa jawa halus (meskipun bpk dan ibu keturunan jawa tengah).dan sya bcara ttg sesuatu yg sebenarnya sya tdk tahu,tp itu benar kata teman2 sya.dan 2 tahun lalu sya pernah kerasukan,dan sya berlaku seperti macan menurut org2 yg melihat kejadian tsb.kejadiannya pas di pengajian di rumah sya.
    Mohon sya diberi petunjuk mengenai hal tsb pak sudra.matur sembah nuwun.

    Sudradiningrat : Saya tidak dapat matur banyak mas. Sesungguhnya kt tdk tahu apa-apa ttg hal ghaib, urusan ghaib adalah urusan Allah semata.

  16. salam kenal pak Sudra…sy handoko seneng sekali membaca kisah tentang surodipo yang sangat akrap skali di telinga saya karena saya kebetulan berasal dari wonoboyo temanggung,di makam pepunden keluarga besar saya anak satu makam yg tidak di ketahui persis makam siapa,yang mau saya tanyakan ke pak sudra,dimana makam eyang surodipo yang sebenarnya. boleh pak di balas lewat email sy.terimakasih matur nuwun

    Sudradiningrat : Setahu saya makam pepunden yang ada di Desa Dadapan Kec. Wonoboyo adalah makam Kyai Surowijoyo (Kyai Patih). Beliau ini mertua Surodipo.

  17. Patih Danurejo IV adalah salah satu punggawa yang anti Diponegoro dan sangat mencintai Belanda. Harus dikenang dan diingat karena saat ini banyak orang beraliran Danurejo IV, bermuka dua.

  18. Saya adalah keturunan Pangeran Diponegoro. Saya keturunan ke 7. Sejarah telah mencatat siapa Patih Danurejo IV, seorang yang mempunyai sifat penjilat dan memusuhi para pangeran yang anti Belanda. Pangeran Diponegoro sangat marah kepada Patih Danurejo IV karena melakukan pematokan tanah di Tegalrejo dan meletuslah perang Diponegoro.

    Sudradiningrat : Inggih, matur nuwun informasinipun. Perang Jawa bukan hanya soal patok Tegalrejo, tapi sangat luas dan multidemensi.

  19. sukawayang Says:

    menarik karena berbeda dengan sejarah mapan. Yang penting bagi kita adalah bagaimana mengisi kemerdekaan sekarang, karena masalah orang tua dulu kita tidak terlalu jelas. Maklum sejarah kita banyak yang kabur.

  20. sukawayang Says:

    Ass, kakang Sudradiningrat. Semoga dengan tulisan kakang akan menambah manfaat kesadaran sejarah dan rekonsiliasi bangsa. Apapun peristiwanya kita memang perlu menggugah kembali semangat nasionalisme kita melalui kesadaran sejarah.
    Budaya tulis kita masih sangat rendah, padahal bangsa yang maju akan memperhatikan perkembangan budaya tulis.
    Nuwun.

    Sudradiningrat : Waalaikumsalam. Matur nuwun awit kerawuhanipun. Memang harapan saya adalah tulisan ini dapat memberi manfaat kpd masyarakat luas.

  21. saya ini pingin menggali kembali tentang Perang Diponegoro, terutama apa sebenarnya yg menjadi faktor penyebabnya, ? tapi begitu menemukan Tokoh yg bernama Danuredjo IV, kepala saya jadi pusing, karena bayak fersi yg berbeda dlm menceritakan ttg Tokoh tsb ?

    Sudradiningrat : Sumber sejarah kita kebanyakan berupa cerita babad, jarang ada bukti tertulis (surat kekancingan, piyagem, surat keputusan dsb), seringkali hal ini membuat sejarah kita memjadi rancu.

  22. danurejo IV akhir hidupnya n makamnya dimana pak? terus apa yang lebih detail dari dia, sifat buruknya dan apa agamanya suro dipo itu pak

    Sudradiningrat : Agamanya Islam, informasinya alumni pondok Mlangi.

  23. mantabbb pakkk.. andai bisa sharing dan diskusi. Sya suka munculnya data-data menarik model begini. Luar biasa. Salam kenal

    Sudradiningrat : Matur nuwun kerawuhanipun.

  24. Terima kasih ulasan sejarah ini,.

    Sudradiningrat : Sami-sami pak.

  25. Pecinta Budaya Lidah - Suroboyo. Says:

    Pak Sudra…. Saya yakin Bapak tentunya punya alasan tersendiri untuk mengungkap misteri tapak sejarah mbah Surodipo,… Coba dicocokkan dengan misteri yang sdg kami telusuri tentang keberadaan beberapa makam ditempat kami (komplek makam Sawunggaling) yang diantaranya makam mbah Suro yg konon diberitakan dari kerabat kesultanan Yogjakarta.

    Sudradiningrat : Terima kasih atas kehadiran dan informasinya di blog ini. Salah seorang kenalan saya dari Surabaya pernah menceritakan nama Mbah Suro yang sangat populer di Surabaya tersebut identik dengan Untung Suropati (leluhur Surodipo). Sementara itu dari Bantul-DIY sebagian masyarakat meyakini makam Untung Suropati berada di gunung Buthak. Pundi ingkang leres kula namung nyumanggakaken.

  26. agus aribowo Says:

    ass, kalau boleh minta alamat bapak, saya kehilangan turunan dimana buyut saya bernama Djojowinoto yang katanya di makamkan di bulus purworejo, terima kasih.

  27. terima kasih tulisannya, pak Sudradiningrat. saya tak mempermasalahkan beliau penghianat atau tidak, demikian juga tokoh sejarah lainnya. yang saya permasalahkan adalah kenaifan saudara² saya yang telah mampu membaca dan kemudian yakin dg literatur sejarah bentukan politik masa itu, meski tanpa (harusnya ada) telaah yang dilakukan terhadap pihak penulis. mengingat budaya tulis bangsa kita waktu itu masih lemah. kalau di agama saya ada istilah “sanad”. sejarah mungkin perlu disusun kembali yang sebenar-benarnya dengan banyak lahirnya orang² pandai membaca di bangsa ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: