<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Jagad Surodipo</title>
	<atom:link href="http://jagadsurodipo.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jagadsurodipo.wordpress.com</link>
	<description>Sedhumuk Bathuk Senyari Bumi</description>
	<lastBuildDate>Sun, 08 Jan 2012 13:55:55 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='jagadsurodipo.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://0.gravatar.com/blavatar/e8d5943d8cc494a394e719a6a3faed50?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>Jagad Surodipo</title>
		<link>http://jagadsurodipo.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://jagadsurodipo.wordpress.com/osd.xml" title="Jagad Surodipo" />
	<atom:link rel='hub' href='http://jagadsurodipo.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Telusur Jejak Syeh Siti Jenar</title>
		<link>http://jagadsurodipo.wordpress.com/2010/11/20/telusur-jejak-syeh-siti-jenar/</link>
		<comments>http://jagadsurodipo.wordpress.com/2010/11/20/telusur-jejak-syeh-siti-jenar/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 20 Nov 2010 00:07:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sudradiningrat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Campur-Bawur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jagadsurodipo.wordpress.com/?p=596</guid>
		<description><![CDATA[Syeh Siti Jenar atau Syeh Lemahbang sangat populer bagi masyarakat jawa, beragam alasan orang membicarakan tokoh misterius itu sesuai dengan latar belakang dan kepentingannya. Namun ada juga yang berspekulasi Syeh Lemahbang hanyalah mitos.Menurut cerita babad, Syeh Lemahbang terakhir kali berada di sekitar Pengging (wilayah Kabupaten Boyolali). Untuk membuktikan kebenaran cerita tersebut saya berusaha menelusuri beberapa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jagadsurodipo.wordpress.com&amp;blog=6532790&amp;post=596&amp;subd=jagadsurodipo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Syeh Siti Jenar atau Syeh Lemahbang sangat populer bagi masyarakat jawa, beragam alasan orang membicarakan tokoh misterius itu sesuai dengan latar belakang dan kepentingannya. Namun ada juga yang berspekulasi Syeh Lemahbang hanyalah mitos.Menurut cerita babad, Syeh Lemahbang terakhir kali berada di sekitar Pengging (wilayah Kabupaten Boyolali).</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk membuktikan kebenaran cerita tersebut saya berusaha menelusuri beberapa tempat di sekitar kawasan Pengging. Tahap pertama saya melakukan pencarian tempat-tempat yang bernama Lemahbang yang lokasinya tidak jauh dari Pengging, dengan asumsi nama Syeh Lemahbang sebenarnya menunjuk pada seseorang yang berasal dari Lemahbang. Ada tiga nama tempat yang saya temukan, yakni : Lemah Abang, Mahbang dan Lemahbang.</p>
<div style="text-align:justify;">
<div id="attachment_96" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-96" title="Umbul Lemahbang" src="http://jagadsurodipo.files.wordpress.com/2009/02/ssa437053.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /><p class="wp-caption-text">Umbul di dekat dusun Lemahbang tempat Syeh Lemahbang mengambil air dan wudlu</p></div>
<p>Saya lebih tertarik pada nama yang terakhir, karena sesuai dengan nama dalam babad yakni : Syeh Lemahbang. Tempat yang saya maksudkan tersebut adalah dusun kecil yang berada di Desa Keongan, Kecamatan Nogosari, Kabupaten Boyolali. Tempat ini berada tidak jauh dari Pengging (&lt;15 km) sehingga memungkinkan Syeh Lemahbang dan Ki Ageng Pengging melakukan komunikasi secara intensif. Jarak dari Pengging ke Lemahbang dapat ditempuh berjalan kaki tidak lebih dari satu hari.</p>
</div>
<div style="text-align:justify;">Dusun Lemahbang berada di daerah perbukitan dengan tanah berwarna kemerahan, sungguh pantas apabila tempat itu dinamakan Lemahbang yang berarti tanah merah. Pada abad 15 dusun ini tersembunyi dan sulit dijangkau, sehingga cocok sebagai tempat persembunyian, pertapaan atau latihan militer. Saya berspekulasi Kanjeng Syeh berada di Lemahbang untuk tujuan tersebut, yakni : bersembunyi dari penguasa Demak, bertapa sesuai keyakinan dan melatih militer untuk kepentingan politik.</div>
<div style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;">-</span></div>
<div style="text-align:justify;">Tidak jauh dari Lemahbang ada umbul (mata air) yang sangat tua umurnya. Air umbul sangat jernih dan segar, warga sekitar memanfaatkan untuk keperluan sehari-hari, namun entah apa sebabnya mereka tidak berani menggunakan air umbul untuk persawahan. Menurut cerita warga setempat, di samping barat umbul ada lubang mirip gua, tetapi sekarang sudah longsor. Di lokasi umbul juga ada potongan kayu tua yang sangat dikeramatkan.</div>
<div style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;">-</span></div>
<div style="text-align:justify;">Saya menduga gua tersebut dulunya digunakan Syeh Lemahbang berkhalwat (semedi), sedangkan potongan kayu adalah penyangga atap gua agar tidak runtuh. Dari sisa-sisa yang ada tampak tanah bagian atas gua sangat tipis sehingga rawan runtuh. Mungkin saja gua itu adalah gua buatan Syeh Lemahbang sendiri.</div>
<div style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;">-</span></div>
<div style="text-align:justify;">Sebagai bagian akhir saya berkesimpulan tokoh yang bernama Syeh Lemahbang atau Syeh Siti Jenar benar-benar ada, beliau adalah bagian dari sejarah tanah Jawa. Tidak ada alasan untuk mengatakan tokoh tersebut hanya mitos atau legenda belaka.</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jagadsurodipo.wordpress.com/596/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jagadsurodipo.wordpress.com/596/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jagadsurodipo.wordpress.com/596/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jagadsurodipo.wordpress.com/596/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jagadsurodipo.wordpress.com/596/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jagadsurodipo.wordpress.com/596/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jagadsurodipo.wordpress.com/596/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jagadsurodipo.wordpress.com/596/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jagadsurodipo.wordpress.com/596/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jagadsurodipo.wordpress.com/596/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jagadsurodipo.wordpress.com/596/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jagadsurodipo.wordpress.com/596/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jagadsurodipo.wordpress.com/596/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jagadsurodipo.wordpress.com/596/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jagadsurodipo.wordpress.com&amp;blog=6532790&amp;post=596&amp;subd=jagadsurodipo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jagadsurodipo.wordpress.com/2010/11/20/telusur-jejak-syeh-siti-jenar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cd725a1044b7893644ad9ca967ccf328?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Sudradiningrat</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jagadsurodipo.files.wordpress.com/2009/02/ssa437053.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Umbul Lemahbang</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jaman Kluthuk Awal Sejarah Jawa</title>
		<link>http://jagadsurodipo.wordpress.com/2010/11/10/jaman-kluthuk-awal-sejarah-jawa/</link>
		<comments>http://jagadsurodipo.wordpress.com/2010/11/10/jaman-kluthuk-awal-sejarah-jawa/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Nov 2010 13:29:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sudradiningrat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Campur-Bawur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jagadsurodipo.wordpress.com/?p=592</guid>
		<description><![CDATA[Jaman kluthuk adalah istilah untuk menggambarkan suatu masa yang sangat kuno, di mana saat itu kemajuan ilmu pengetahuan dan peradaban masih rendah. Di jaman kluthuk, tanah Jawa  baru dihuni sejumlah kecil manusia. Mereka masih hidup sangat sederhana dan lugu. Orang-orang Jawa saat itu belum memiliki tempat tinggal tetap. Hanya sebagian kecil dari mereka yang dapat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jagadsurodipo.wordpress.com&amp;blog=6532790&amp;post=592&amp;subd=jagadsurodipo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Jaman kluthuk adalah istilah untuk menggambarkan suatu masa yang sangat kuno, di mana saat itu kemajuan ilmu pengetahuan dan peradaban masih rendah. Di jaman kluthuk, tanah Jawa  baru dihuni sejumlah kecil manusia. Mereka masih hidup sangat sederhana dan lugu. Orang-orang Jawa saat itu belum memiliki tempat tinggal tetap. Hanya sebagian kecil dari mereka yang dapat bercocok tanam, selebihnya mengandalkan hidup dari alam. Bahasa yang digunakan sehari-hari adalah bahasa asli Jawa (Jawa Kuno/Kawi), belum tercampur dengan bahasa lain. Penduduk Jawa kluthuk adalah penganut animisme dan dinamisme.</p>
<p style="text-align:justify;">Meskipun penduduk tanah Jawa masih sedikit dan belum maju peradabannya tapi tanah Jawa sendiri sudah dikenal oleh orang-orang dari negeri seberang. Mereka menyebut tanah Jawa dengan nama Yawadwipa, yang artinya pulau jawawut, yakni semacam tumbuhan padi. Tanah Jawa dikenal subur dan banyak menghasilkan emas. Itulah sebabnya orang-orang dari negeri seberang silih berganti datang ke tanah Jawa melakukan perdagangan (tukar-menukar barang atau barter).</p>
<p style="text-align:justify;">Orang-orang yang paling banyak berkunjung ke tanah Jawa berasal dari Kalingga, Celong, Kambaya, dan India Belakang (Kamboja). Para pendatang tersebut adalah penganut agama Hindu dengan berbagai macam tata cara hidup dan kebudayaannya. Sebagian yang lain adalah penganut ajaran Budha.  Mereka datang ke Jawa dengan mengarungi samudra menggunakan kapal layar. Karena perjalanan yang ditempuh sangat jauh dan membutuhkan waktu lama, sebagian dari mereka mulai tinggal dan menetap di pulau Jawa.</p>
<p style="text-align:justify;">Orang-orang tanah seberang itu bergaul dan hidup berdampingan dengan penduduk asli, sebagian dari mereka melakukan ikatan pekawinan. Pergaulan yang sangat dekat mendorong para pendatang dari golongan kasta brahmana mengajarkan agama dan kebudayaan kepada orang Jawa. Penduduk asli yang masih sangat sederhana dan polos sangat mudah menerima budaya dan agama baru. Para pendatang mempelajari kebiasaan dan kesenangan orang Jawa sebagai sarana menularkan ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Penduduk Jawa ditulari cara bercocok tanam, baca-tulis, perobatan, primbon dan kesusastraan. Berbagai cerita dan kitab Hindustan disadur atau diterjemahkan dalam bahasa Jawa agar dapat dipahami dengan mudah. Mereka memberi nama tempat-tempat tertentu dengan nama yang didasarkan kitab Hindu, sehingga kisah dalam kitab itu seakan benar-benar terjadi di tanah Jawa.</p>
<p style="text-align:justify;">Dewa yang dianggap paling utama dan serba lebih untuk agama Hindu mulai abad pertengahan adalah Syiwa, Durga, Wisnu dan Sri. Brahma adalah dewa yang menitahkan Ganesya, Surya adalah dewa matahari, Sekanda dewa perang, Saraswati dewa kebijaksanaan dan dewa kepandaian atau ilmu pidato. Sedangkan dewa yang termasuk dewa biasa namun sering dijimpai dalam cerita-cerita adalah Kama dan ratih sebagai dewa asmara, serta Kuwera sebagai dewa kekayaan. Ada lagi dewa yang sangat dihormati oleh orang-orang Hindu, yakni Yama dan Darma, kedua dewa tersebut adalah dewa kematian. Agni adalah dewa api, Endra adalah raja para dewa dan dewa hujan. Di dalam kitab-kitab yang berisikan cerita mengenai para dewa sampai jaman yang terakhir, Endra masih dianggap sebagai pemimpin atau pemukanya para dewa.</p>
<p style="text-align:justify;">Kehidupan bermasyarakat penduduk Jawa dibangun sesuai dengan ajaran agama. Mereka mulai mengenal tata cara hidup bermasyarakat dibawah seorang pemimpin yang dianggap mumpuni. Hubungan antara penganut Hindu dan penganut Budha sangat harmonis, tidak pernah ada pertikaian yang disebabkan oleh perbedaan agama. Struktur masyarakat Jawa diubah sesuai dengan pola Hindustan yang terbagi dalam empat tingkatan, yakni kasta brahmana, kasta ksatria, kasta waisya dan kasta sudra. Peran para brahmana menjadi sangat penting dan sangat dihormati. Dalam perkembangannya penduduk Jawa hanya menjadi kasta yang paling rendah (sudra). Setelah kehidupan penduduk Jawa kluthuk tertata dengan baik, para pendatang mengenalkan sistem pemerintahan dan bernegara, mereka merintis berdirinya sebuah kerajaan.</p>
<p style="text-align:justify;">Raja tertua di tanah Jawa adalah Prabu Sanna yang juga bergelar Prabu Sannaha, kemudian digantikan oleh putranya yang bernama Prabu Sanjaya. Kedua raja itu belum memiliki istana yang tetap, mereka berpindah-pindah tempat untuk mencari daerah yang paling cocok untuk membangun sebuah pusat pemerintahan. Prabu Sanjaya berwatak bijak serta berwajah tampan. Beliau mendirikan lingga berada di tanah pemujaan agama Hindu (Syiwa) di sebuah gunung sebagai penolak bala agar tanah Jawa aman dan sejahtera. Kerajaan pertama di tanah Jawa yang memiliki pusat pemerintahan permanen adalah Mataram, yang berada di lereng barat gunung Merapi. Pusat kerajaan yang dibangun di lereng gunung karena didasarkan atas kepercayaan gunung Merapi sebagai kahyangan para dewa, sungai Progo yang mata airnya berada di Merapi dianggap sungai suci (sungai Gangga). Kerajaan Mataram terus berkembang dinamis menjadi sebuah negara yang berdasarkan agama, peran pemerintah saat itu lebih banyak berfungsi sebagai pengatur syariat agama dalam masyarakat.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jagadsurodipo.wordpress.com/592/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jagadsurodipo.wordpress.com/592/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jagadsurodipo.wordpress.com/592/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jagadsurodipo.wordpress.com/592/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jagadsurodipo.wordpress.com/592/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jagadsurodipo.wordpress.com/592/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jagadsurodipo.wordpress.com/592/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jagadsurodipo.wordpress.com/592/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jagadsurodipo.wordpress.com/592/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jagadsurodipo.wordpress.com/592/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jagadsurodipo.wordpress.com/592/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jagadsurodipo.wordpress.com/592/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jagadsurodipo.wordpress.com/592/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jagadsurodipo.wordpress.com/592/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jagadsurodipo.wordpress.com&amp;blog=6532790&amp;post=592&amp;subd=jagadsurodipo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jagadsurodipo.wordpress.com/2010/11/10/jaman-kluthuk-awal-sejarah-jawa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cd725a1044b7893644ad9ca967ccf328?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Sudradiningrat</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sistem Penanggalan Di Tanah Jawa</title>
		<link>http://jagadsurodipo.wordpress.com/2010/11/10/sistem-penanggalan-di-tanah-jawa/</link>
		<comments>http://jagadsurodipo.wordpress.com/2010/11/10/sistem-penanggalan-di-tanah-jawa/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Nov 2010 12:53:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sudradiningrat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Campur-Bawur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jagadsurodipo.wordpress.com/?p=586</guid>
		<description><![CDATA[Berdasarkan kronologis sejarah, di Jawa beredar beberapa sistem penanggalan yang dipakai di tengah masyarakat. Sistem penanggalan tersebut ada yang menggunakan pedoman peredaran matahari (surya sengkala) dan ada juga yang menggunakan pedoman peredaran bulan (candra sengkala). Beberapa sistem penanggalan tersebut antara lain : penanggalan tahun Saka, penanggalan tahun Hijriyah, penanggalan tahun Jawa dan penanggalan tahun Masehi. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jagadsurodipo.wordpress.com&amp;blog=6532790&amp;post=586&amp;subd=jagadsurodipo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Berdasarkan kronologis sejarah, di Jawa beredar beberapa sistem penanggalan yang dipakai di tengah masyarakat. Sistem penanggalan tersebut ada yang menggunakan pedoman peredaran matahari (surya sengkala) dan ada juga yang menggunakan pedoman peredaran bulan (candra sengkala). Beberapa sistem penanggalan tersebut antara lain : penanggalan tahun Saka, penanggalan tahun Hijriyah, penanggalan tahun Jawa dan penanggalan tahun Masehi. Meskipun saat ini secara resmi pemerintah menetapkan tahun Masehi sebagai sitem penanggalan, namun dalam kenyataannya sistem penanggalan yang lain masih tetap digunakan di tengah masyarakat. Riwayat beberapa sistem penangalan tersebut adalah seperti berikut :</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff0000;"><strong>Tahun Saka.</strong></span><br />
Tahun Saka adalah sistem penanggalan berdasarkan peredaran matahari (surya sengkala). Penghitungan tahun Saka dimulai (ditandai) dengan kedatangan Sang Isaka (Aji Saka) di pulau Jawa, yakni tahun 78 Masehi. Untuk menghitung atau mencocokkan tahun Saka dengan tahun Masehi tinggal mempertautkan 78. Sebagai contoh pada saat ini adalah tahun 2010 Masehi, berarti saat ini bertepatan dengan tahun 1932 Saka. Tahun Saka secara resmi digunakan sejak jaman permulaan sejarah Jawa hingga jaman Majapahit akhir.<br />
Dalam satu tahun Saka terdiri dari 12 bulan yakni : Caitra (Maret-April), Waisaka (April-Mei), Jyesta (Mei-Juni), Asadha (Juni-Juli), Srawana (Juli-Agustus), Bhadrapada (Agustus-September), Aswina (September-Oktober), Kartika (Oktober-Nopember), Margasirsa (Nopember-Desember), Pausa (Desember-Januari), Magda (Januari-Pebruari), Phalguna (Pebruari-Maret).</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff0000;"><strong>Tahun Hijriyah</strong></span><br />
Tahun Hijriyah atau biasa disebut dengan tahun Islam adalah sistem penanggalan berdasarkan peredaran bulan (candra sengkala). Perhitungan tahun Hijriyah dimulai (ditandai) dengan hijrah Nabi Muhammad SAW dari Mekah ke Madinah. Sistem penanggalan ini masuk ke tanah Jawa bersamaan dengan penyebaran agama Islam. Secara resmi tahun Hijriyah digunakan sejak jaman Kasultanan Demak sampai dengan adanya penetapan Sultan Agung tentang pemberlakuan tahun Jawa.<br />
Dalam satu tahun Hijriyah terdiri dari 12 bulan yakni : Muharram, Shafar, Rabiul Awwal. Rabiul Tsani, Jumadil Ula, Jumadil Tsaniyah,  Rajab, Sya&#8217;ban, Ramadlan, Syawal, Dzulqa&#8217;dah, Dzulhijjah.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff0000;"><strong>Tahun Jawa</strong></span>.<br />
Tahun Jawa adalah sistem penanggalan berdasarkan peredaran bulan (candra sengkala). Riawayat sisetem penanggalan tahun Jawa yakni pada tahun 1555 Saka atau tepatnya pada tanggal 8 Juli 1613 Masehi, Sultan Agung membuat ketetapan sistem penanggalan baru yang disebut dengan tahun Jawa. Permulaan tahun Jawa adalah saat dikeluarkan penetapan, yakni tahun 1555 Saka, sehingga pada saat tersebut berarti tahun 1 Jawa. Penanggalan tahun Jawa sebenarnya mengacu pada tahun Hijriyah, hanya saja nama-nama bulan disesuaikan dengan dialek Jawa. Karena dasar perhitungannya berbeda, antara tahun Jawa dan tahun Masehi terjadi selisih 10 hari setiap tahunnya. Dengan demikian setiap kurang lebih 35 tahun maka tahun Jawa perbedaannya tidak lagi 78 tahun dibandingkan tahun Masehi, tetapi sudah berkurang satu tahun. Selesih perbedaan 10 hari ini biasa disebut dengan angka merta.<br />
Dalam satu tahun Jawa terdiri dari 12 bulan yakni : Suro, Sapar, Mulud, Bakda Mulud, Jumadilawal, Jumadilakhir, Rejeb, Ruwah Pasa, Sawal, Dulkangidah, Besar.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff0000;"><strong>Tahun Masehi.</strong></span><br />
Tahun Masehi adalah sistem penanggalan berdasarkan peredaran matahari (surya sengkala). Penghitungan tahun Masehi dimulai (ditandai) dengan lahirnya nabi Isa AS. Tahun Masehi deikenal juga dengan istilah Anno Domini (ANNO), hal ini bisa kita lihat pada bangunan-bangunan peninggalan Belanda yang biasa ditulisi dengan tahun pendiriannya, misalnya ANNO 1908 yang berati tahun 1908 Masehi. Penanggalan tahun Masehi mulai dikenal di tanah Jawa bersamaan dengan kedatangan orang-orang VOC Belanda di Kasunanan Kartasura tahun 1680. Orang-orang negeri Belanda ini memperoleh fasilitas di negeri Mataram karena telah berjasa kepada Sunan Amangkurat dalam mendirikan kembali dinasti Mataram setelah dihancurkan Adipati Trunojoyo. Sejak saat itu sistem penanggalan yang dikenal ada dua macam, yakni tahun Jawa dan tahun Masehi. Secara resmi Tahun Masehi digunakan oleh masyarakat Jawa (dan bangsa Indonesia) dimulai tahun 1945, yakni bersamaan proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia.<br />
Dalam satu tahun Masehi terdiri dari 12 bulan yakni : Januari, Pebruari, Maret, April, Mesi, Juni, Juli, Agustus, September, Nopember, Desember.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jagadsurodipo.wordpress.com/586/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jagadsurodipo.wordpress.com/586/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jagadsurodipo.wordpress.com/586/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jagadsurodipo.wordpress.com/586/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jagadsurodipo.wordpress.com/586/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jagadsurodipo.wordpress.com/586/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jagadsurodipo.wordpress.com/586/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jagadsurodipo.wordpress.com/586/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jagadsurodipo.wordpress.com/586/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jagadsurodipo.wordpress.com/586/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jagadsurodipo.wordpress.com/586/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jagadsurodipo.wordpress.com/586/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jagadsurodipo.wordpress.com/586/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jagadsurodipo.wordpress.com/586/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jagadsurodipo.wordpress.com&amp;blog=6532790&amp;post=586&amp;subd=jagadsurodipo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jagadsurodipo.wordpress.com/2010/11/10/sistem-penanggalan-di-tanah-jawa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cd725a1044b7893644ad9ca967ccf328?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Sudradiningrat</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Prabu Airlangga</title>
		<link>http://jagadsurodipo.wordpress.com/2010/11/10/prabu-airlangga/</link>
		<comments>http://jagadsurodipo.wordpress.com/2010/11/10/prabu-airlangga/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Nov 2010 12:48:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sudradiningrat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Campur-Bawur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jagadsurodipo.wordpress.com/?p=582</guid>
		<description><![CDATA[Pada awal abad sepuluh Empu Sindok menjadi maharaja Mataram dan pusat kerajaannya dipindahkan di Watu Galuh (Jombang). Raja Sindok menggunakan gelar Sri Isana Wikramotunggadewa, yang selanjutnya menjadi cikal-bakal wangsa Isana, menggantikan wangsa Sanjaya. Empu Sindok mempunyai seorang putri bernama Sri Isyanatunggawijaya. Sri Isanatunggawijaya menikah dengan Sri Lokapala dari Bali. Dari pernikahan tersebut lahir seorang putra [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jagadsurodipo.wordpress.com&amp;blog=6532790&amp;post=582&amp;subd=jagadsurodipo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Pada awal abad sepuluh Empu Sindok menjadi maharaja Mataram dan pusat kerajaannya dipindahkan di Watu Galuh (Jombang). Raja Sindok menggunakan gelar Sri Isana Wikramotunggadewa, yang selanjutnya menjadi cikal-bakal wangsa Isana, menggantikan wangsa Sanjaya. Empu Sindok mempunyai seorang putri bernama Sri Isyanatunggawijaya. Sri Isanatunggawijaya menikah dengan Sri Lokapala dari Bali. Dari pernikahan tersebut lahir seorang putra bernama Makutawangsawardana. Empu Sindok mangkat, Sri Lokapala menggantikan sebagai raja dan memegang tampuk pemerintahan negara sampai putranya dewasa. Sri Lokapala turun tahta dan menyerahkan kekuasaan kepada Makutawangsawardana.</p>
<p style="text-align:justify;">Makutawangsawardhana mempunyai seorang putra yang bernama Dharmawangsa dan seorang putri  bernama Mahendratta. Setelah Makuthawangsawardhana turun tahta, Dharmawangsa menggantikan sebagai raja. Ketika Prabu Dharmawangsa berkuasa, pusat pemerintahan dipindahkan dari Watu Galuh ke Watan di kaki gunung Penanggungan sebelah selatan Sidoarjo. Mahendratta menikah dengan Sri Dharmodayana Warmadewa (Prabu Udayana) dan dijadikan permaisuri di kerajaannya yang berada di Bali.  Dari pernikahan tersebut lahir Airlangga.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada usia enam belas tahun Airlangga datang ke tanah Jawa atas undangan Prabu Dharmawangsa (paman Airlangga) untuk menghadiri pesta pernikahan putrinya. Secara mendadak istana sang raja diserang Prabu Wurawari dari Lwarang (Lawang). Sri Dharmawangsa terbunuh dan prajuritnya tercerai-berai, ibukota kerajaan dimusnahkan dan dibakar. Airlangga berhasil meloloskan diri dari musibah dengan dikawal pengikutnya yang bernama Narottama, kemudian mereka tinggal di pertapaan yang berada di hutan Wonogiri bersama para brahmana.</p>
<p style="text-align:justify;">Selama tiga tahun berada di hutan, Airlangga menjalani kehidupan sebagaimana brahmana pada umumnya, termasuk mengenakan pakaian dari kulit. Narottama dengan setia menemani Airlangga yang sedang berada dalam kesulitan. Dia selalu memberi nasihat agar tetap sabar dalam menjalani cobaan, karena suatu saat nanti Airlangga pasti akan mendapatkan kebahagiaan.</p>
<p style="text-align:justify;">Para pemuka brahmana menyampaikan permohonan agar Airlangga bangkit berperang melawan musuh yang menduduki kerajaan mendiang Sri Dharmawangsa. Para brahmana juga mengatakan kalau Airlangga adalah titisan Dewa Wisnu yang masih harus menyelesaikan tugasnya untuk menyelamatkan dunia dari ancaman bahaya. Dewa Wisnu tidak pernah gagal dalam menunaikan tugasnya. Airlangga mempercayai nasihat para brahmana dan mendorong hatinya untuk merebut kembali kerajaan yang sudah dikuasai musuh.</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah mendapat dukungan dari para brahmana, Airlangga mengadakan serangan di berbagai tempat dan berhasil menundukkan Prabu Wurawari beserta seluruh bala  prajuritnya. Airlangga mengambilalih kekuasaan, selanjutnya melakukan penakhlukkan para raja di wilayah timur. Prajuritnya selalu mendapatkan kemenangan dan pulang dengan membawa rampasan perang dalam jumlah melimpah. Airlangga juga melakukan penyerangan ke wilayah barat. Prabu Wijaya yang berkuasa di wilayah barat dapat ditakhlukkan dan bersedia mengakui kekuasaan Airlangga.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan kemenangan itu Airlangga semakin yakin bahwa dirinya benar-benar sebagai titisan Dewa Wisnu. Setelah mengalahkan semua musuhnya, Airlangga dinobatkan sebagai raja di tanah Jawa, pusat pemerintahannya berada di Watan Mas. Salah seorang putri mendiang Dharmawangsa dijadikan permaisuri dan Narottama diangkat sebagai pejabat tinggi negara. Selanjutnya Ibukota kerajaan dipindahkan ke Kahuripan, lalu dipindahkan lagi ke Panjalu (Daha/Kediri). Dengan bertahtahnya Prabu Airlangga berarti kekuasaan tanah Jawa kembali ke tangan anak keturunan wangsa Isana (Empu Sindok).</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jagadsurodipo.wordpress.com/582/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jagadsurodipo.wordpress.com/582/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jagadsurodipo.wordpress.com/582/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jagadsurodipo.wordpress.com/582/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jagadsurodipo.wordpress.com/582/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jagadsurodipo.wordpress.com/582/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jagadsurodipo.wordpress.com/582/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jagadsurodipo.wordpress.com/582/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jagadsurodipo.wordpress.com/582/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jagadsurodipo.wordpress.com/582/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jagadsurodipo.wordpress.com/582/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jagadsurodipo.wordpress.com/582/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jagadsurodipo.wordpress.com/582/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jagadsurodipo.wordpress.com/582/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jagadsurodipo.wordpress.com&amp;blog=6532790&amp;post=582&amp;subd=jagadsurodipo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jagadsurodipo.wordpress.com/2010/11/10/prabu-airlangga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cd725a1044b7893644ad9ca967ccf328?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Sudradiningrat</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pergolakan Kraton Kartasura</title>
		<link>http://jagadsurodipo.wordpress.com/2010/11/10/pergolakan-kraton-kartasura/</link>
		<comments>http://jagadsurodipo.wordpress.com/2010/11/10/pergolakan-kraton-kartasura/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Nov 2010 12:42:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sudradiningrat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Campur-Bawur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jagadsurodipo.wordpress.com/?p=578</guid>
		<description><![CDATA[Babad Tanah Jawi menceritakan beberapa peristiwa munculnya raja kembar kraton Mataram. Meskipun dibungkus dengan bahasa sehalus apapun, tetap saja terlihat bila dalam tubuh dinasti Mataram penuh dengan konflik tajam. Puncak dari konflik itu adalah timbulnya faksi-faksi yang mendorong keberanian seorang pangeran jumeneng nata meskipun sudah ada raja yang tidak lain adalah saudaranya sendiri. Bagi orang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jagadsurodipo.wordpress.com&amp;blog=6532790&amp;post=578&amp;subd=jagadsurodipo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Babad Tanah Jawi menceritakan beberapa peristiwa munculnya raja kembar kraton Mataram. Meskipun dibungkus dengan bahasa sehalus apapun, tetap saja terlihat bila dalam tubuh dinasti Mataram penuh dengan konflik tajam. Puncak dari konflik itu adalah timbulnya faksi-faksi yang mendorong keberanian seorang pangeran jumeneng nata meskipun sudah ada raja yang tidak lain adalah saudaranya sendiri. Bagi orang Jawa ’rebutan balung’ dengan saudara adalah peristiwa memalukan, namun kenyataannya dinasti Mataram terlanjur menorehkan peristiwa itu dalam sejarah tanah Jawa.</p>
<p style="text-align:justify;">Tahun 1703 di Kartasura terjadi perubahan pemerintahan, Sunan Amangkurat II wafat dan digantikan oleh putra mahkotanya. Raja baru ini  menggunakan gelar Sunan Amangkurat III atau dikenal dengan nama Sunan Mas. Sejak awal penobatan Sunan Mas sudah banyak sentana kraton yang tidak setuju, mereka menilai putra mahkota tidak layak menjadi raja karena perbuatannya kurang terpuji, terutama dalam urusan perempuan. Mereka mengkhawatirkan Kartasura akan kehilangan kewibawaan kerana dipimpin seorang raja yang tindak-tanduknya tidak terpuji.</p>
<p style="text-align:justify;">Kelompok oposisi Kartasura menghembuskan isu tentang perilaku Sunan Mas yang kurang terpuji sehingga muncul wacana untuk melengserkan raja Kartasura dan menobatkan Pangeran Puger sebagai penggantinya. Wacana itu akhirnya benar-benar menjadi kenyataan bersamaan dengan penobatan Pangeran Puger sebagai raja Mataram yang dilakukan di Semarang. Dalam penobatan yang ke dua sebagai raja, Pangeran Puger memakai gelar Susuhunan Pakubuwono I. Kraton Mataram memiliki dua raja kembar, yang satu di Kartasura dan yang lain di Semarang. Dengan dukungan penuh dari kompeni, Sunan Pakubuwono I berhasil menyingkirkan Sunan Mas dari istana Kartasura.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebelum Sunan Mas diasingkan ke Sailan, beliau sudah mengikat kontrak dengan kompeni yang mengamanatkan agar putra Sunan Mas diangkat sebagai Pangeran Adipati Anom. Kenyataan itu memaksa Sunan Pakubuwono I mencari cara agar putranya juga bisa menjadi raja. Salah seorang putra beliau bernama Pangeran Diponegoro diperintah mendirikan pusat kerajaan tanah Jawa di Madiun. Perintah itu segera dilaksanakan, Pangeran Diponegoro menjadi raja tanah Jawa dengan bergelar Panembahan Erucokro. Raja kembar Mataram kali ini adalah hasil konspirasi ayah dan anaknya untuk kepentingan bersama, meskipun dari luar mereka tampak melakukan peperangan.</p>
<p style="text-align:justify;">Sunan Pakubuwono I wafat dan digantikan oleh Pangeran Adipati Anom (putra Sunan Mas), beliau menggunakan nama abhiseka Susuhunan Amangkurat IV. Dengan penobatan itu membuat Panembahan Erucokro semakin berani menunjukkan kekuatannya, beliau memindahkan pusat kerajaannya ke wilayah Sukowati (Sragen) dengan tujuan menyerang Kartasura. Persoalan belum berhenti sampai di situ, putra Sunan Pakubuwono I yang bernama Pangeran Blater (Pangeran Blitar) juga mulai tertarik dengan singgasana Mataram.</p>
<p style="text-align:justify;">Secara kebetulan timbul ketegangan antara Pangeran Blater dengan Sunan Amangkurat IV. Ketegangan itu memacu semangat Pangeran Blater meninggalkan Blateran dan menghimpun kekuatan pendukungnya guna melawan penguasa Kartasura. Pangeran Blater menyusun bala prajurit di Kartasekar, yakni bekas istana Sultan Agung. Dengan mantap Pangeran Blater menobatkan diri sebagai raja Mataram dan bergelar Susuhunan Ibnumustopo Pakubuwono. Tidak dapat dibayangkan betapa panasnya suhu politik negeri Mataram saat itu dengan tiga raja kembar secara bersamaan. Peristiwa langka tapi nyata telah membuat kebingungan rakyat, ujung-ujungnya adalah penderitaan yang harus ditanggung kawula alit.</p>
<p style="text-align:justify;">Sunan Amangkurat IV berupaya mempertahankan kebesarannya dengan dukungan kompeni. Panembahan Erucokro dan Sunan Ibnumustopo menjadi musuh kompeni karena dipandang sebagai sandungan kolonialisme di tanah Jawa. Kedua raja saingan Kartasura akhirnya harus menelan kenyataan pahit terlempar dari segala bentuk kenikmatan Mataram. Kompeni yang berdiri sebagai wasit sekaligus tenaga pemukul mendapatkan keuntungan berlimpah. Taring penjajahan makin menancap kuat di negeri Mataram.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jagadsurodipo.wordpress.com/578/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jagadsurodipo.wordpress.com/578/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jagadsurodipo.wordpress.com/578/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jagadsurodipo.wordpress.com/578/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jagadsurodipo.wordpress.com/578/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jagadsurodipo.wordpress.com/578/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jagadsurodipo.wordpress.com/578/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jagadsurodipo.wordpress.com/578/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jagadsurodipo.wordpress.com/578/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jagadsurodipo.wordpress.com/578/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jagadsurodipo.wordpress.com/578/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jagadsurodipo.wordpress.com/578/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jagadsurodipo.wordpress.com/578/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jagadsurodipo.wordpress.com/578/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jagadsurodipo.wordpress.com&amp;blog=6532790&amp;post=578&amp;subd=jagadsurodipo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jagadsurodipo.wordpress.com/2010/11/10/pergolakan-kraton-kartasura/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cd725a1044b7893644ad9ca967ccf328?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Sudradiningrat</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jangka Ronggowarsito</title>
		<link>http://jagadsurodipo.wordpress.com/2010/11/10/jangka-ronggowarsito/</link>
		<comments>http://jagadsurodipo.wordpress.com/2010/11/10/jangka-ronggowarsito/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Nov 2010 12:35:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sudradiningrat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Campur-Bawur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jagadsurodipo.wordpress.com/?p=574</guid>
		<description><![CDATA[Membicarakan Ronggowarsito identik dengan membicarakan jaman kalabendu. Istilah kalabendu sebenarnya bukan murni berasal dari Ronggowarsito, tetapi bersumber dari jangka Prabu Joyoboyo yang sudah ada sebelumnya. Kalabendhu berasal dari kata kala (jaman) dan bendu (petaka, bencana), yang berarti suatu jaman yang penuh dengan kesulitan, bencana atau petaka. Istilah kalabendhu sudah populer di kalangan masyarakat Jawa semenjak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jagadsurodipo.wordpress.com&amp;blog=6532790&amp;post=574&amp;subd=jagadsurodipo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Membicarakan Ronggowarsito identik dengan membicarakan jaman kalabendu. Istilah kalabendu sebenarnya bukan murni berasal dari Ronggowarsito, tetapi bersumber dari jangka Prabu Joyoboyo yang sudah ada sebelumnya. Kalabendhu berasal dari kata kala (jaman) dan bendu (petaka, bencana), yang berarti suatu jaman yang penuh dengan kesulitan, bencana atau petaka. Istilah kalabendhu sudah populer di kalangan masyarakat Jawa semenjak ratusan tahun sebelum kelahiran Ronggowarsito.</p>
<p style="text-align:justify;">Banyak pendapat yang berkembang di masyarakat tentang kapan waktu berlangsungnya jaman kalabendu. Ada yang berpendapat kalabendu terjadi saat Ronggowarsito masih hidup dan berakhir pada tahun 1945. Bukti empirik dari pendapat tersebut adalah lahirnya negara baru Republik Indonesia, yang secara kebetulan diproklamasikan pada tahun 1945. Semenjak tahun ini tanah Jawa sudah terbebas dari penguasaan kolonial, hal ini dijadikan alasan bahwa kalabendu sudah berakhir dan berganti dengan jaman yang penuh dengan kemakmuran.</p>
<p style="text-align:justify;">Melalui posting ini saya berpendapat bahwa tahun 1945 bukanlah akhir dari jaman kalabendu, tetapi tahun 1945 adalah tahap permulaan jaman kalabendu, dan akan terus bergulir sampai kurun waktu seratus tahun berikutnya. Dengan kata lain saat ini (tahun 2010) adalah masa-masa yang berada di sekitar titik kulminasi jaman kalabendu. Ronggowarsito tidak hidup di jaman kalabendu, sebab beliau menegaskan bahwa “kelak” akan datang masa yang penuh dengan kesulitan, artinya jaman yang menyeramkan tersebut belum terjadi saat beliau menyampaikan pendapatnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Berdasarkan penjelasan Ronggowarsito yang ditulis dalam Serat Jaka Lodhang, datangnya jaman kalabendu akan ditandai dengan runtuhnya kekuasaan raja Jawa (kraton Surakarta dan Yogyakarta) dan digantikan kekuasaan yang berasal dari rakyat jelata.<br />
<span style="color:#ff0000;">”<em>Jaka Lodhang gumandhul // aneng ngepang ngethengkrang sru muwus // eling-eling pasthi karsaning Hyang Widhi // gunung mendhak jurang mbrenjul // ingusir praja prang kasor</em>”</span><br />
Gunung adalah gambaran raja Jawa dan pemerintah Hindia Belanda, sedangkan jurang adalah gambaran rakyat jelata. Seiring dengan perputaran nasib kedua sentral penguasa Jawa tersebut akan terusir dari praja (negara) karena mereka dikalahkan dalam peperangan.</p>
<p style="text-align:justify;">Meskipun raja Jawa berusaha dengan segala upaya tetapi arus perubahan politik tidak dapat dicegah. Pada akhirnya dinasti Mataram harus menyaksikan kraton yang didirikan Panembahan Senopati runtuh. Tanah Jawa masuk pada tataran politik baru yang sangat berbeda dengan kondisi sebelumnya, di mana kekuasaan bukan di tangan raja, tetapi kekuasaan menjadi milik rakyat. Pergolakan politik yang sangat dahsyat tersebut terjadi pada tahun 1945.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jagadsurodipo.wordpress.com/574/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jagadsurodipo.wordpress.com/574/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jagadsurodipo.wordpress.com/574/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jagadsurodipo.wordpress.com/574/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jagadsurodipo.wordpress.com/574/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jagadsurodipo.wordpress.com/574/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jagadsurodipo.wordpress.com/574/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jagadsurodipo.wordpress.com/574/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jagadsurodipo.wordpress.com/574/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jagadsurodipo.wordpress.com/574/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jagadsurodipo.wordpress.com/574/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jagadsurodipo.wordpress.com/574/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jagadsurodipo.wordpress.com/574/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jagadsurodipo.wordpress.com/574/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jagadsurodipo.wordpress.com&amp;blog=6532790&amp;post=574&amp;subd=jagadsurodipo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jagadsurodipo.wordpress.com/2010/11/10/jangka-ronggowarsito/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cd725a1044b7893644ad9ca967ccf328?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Sudradiningrat</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Penerus Untung Suropati</title>
		<link>http://jagadsurodipo.wordpress.com/2010/11/01/perlawanan-keturunan-untung-suropati/</link>
		<comments>http://jagadsurodipo.wordpress.com/2010/11/01/perlawanan-keturunan-untung-suropati/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Nov 2010 16:34:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sudradiningrat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Untung Suropati]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jagadsurodipo.wordpress.com/?p=568</guid>
		<description><![CDATA[Sunan Mas beserta pasukannya yang berada di Kediri segera mempersiapkan diri untuk menghadang musuh. Pada saat yang sudah ditetentukan, serdadu kompeni dan bala prajurit Mataram menyerbu kota Kediri. Prajurit pengawal Kanjeng Sunan Mas memberikan perlawanan, pertempuran sengit berkobar di kota Kediri. Serdadu kompeni banyak yang menemui ajal, prajurit Madura juga banyak yang bersimbah darah menjadi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jagadsurodipo.wordpress.com&amp;blog=6532790&amp;post=568&amp;subd=jagadsurodipo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Sunan Mas beserta pasukannya yang berada di Kediri segera mempersiapkan diri untuk menghadang musuh. Pada saat yang sudah ditetentukan, serdadu kompeni dan bala prajurit Mataram menyerbu kota Kediri. Prajurit pengawal Kanjeng Sunan Mas memberikan perlawanan, pertempuran sengit berkobar di kota Kediri. Serdadu kompeni banyak yang menemui ajal, prajurit Madura juga banyak yang bersimbah darah menjadi korban pertempuran. Prajurit dari Surabaya hanya mendapat cidera ringan dan tidak ada yang terbunuh, hal itu membuat orang-orang kompeni semakin geram kepada Adipati Jangrono, dulu waktu menyerang Untung Suropati, Adipati Jangrono juga berbuat hal sama.</p>
<p style="text-align:justify;">Seiring dengan datangnya malam, pertempuran segera dihentikan. Sunan Mas memerintahkan pasukannya agar mundur dari Kediri menuju Pasuruan. Kanjeng Sunan berencana menggabungkan prajuritnya dengan anak keturunan Untung Suropati. Keesokan harinya prajurit Mataram dan serdadu kompeni kembali memburu Sunan Mas, mereka sangat kecewa karena kota Kediri ternyata sudah kosong. Mereka mendapat kabar bila Kanjeng Sunan sudah pergi ke arah Pasuruan. Tanpa membuang waktu seluruh pasukan segera melakukan pengejaran.</p>
<p style="text-align:justify;">Adipati Wironegoro sudah menyiapkan senopati perang beserta bala prajuritnya. Kanjeng Sunan Mas memberi perintah agar kedua putra beliau yakni Pangeran Pakunegoro dan Pangeran Pakudiningrat beserta prajuritnya bergabung dengan prajurit Pasuruan. Para Prajurit itu berangkat dari Pasuruan melalui Ngantang terus berbelok ke arah utara. Tidak lama berselang, mereka berpapasan dengan serdadu kompeni dan prajurit Mataram. Pertempuran terjadi di Carat, Wangkal dan di tanah datar Sangiri. Serdadu kompeni menghujni musuh dengan tembakan meriam, bala prajurit Pasuruan mulai kocar-kacir dan jumlah korban yang gugur di medan pertempuran terus bertambah banyak. Suropati dan Surodilogo memerintahkan agar pasukannya mundur dan kembali ke Pasuruan.</p>
<p style="text-align:justify;">Pasukan kompeni mengejar sampai ke Pasuruan, dan segera melakukan pengepungan dari empat arah. Adipati Wironegoro beserta seluruh prajuritnya sekuat tenaga mempertahankan negeri Pasuruan. Serangan pihak musuh yang sangat dahsyat tidak mungkin ditahan lagi, seluruh prajurit Pasuruan sudah tercerai-berai. Sunan Mas dan Adipati Wironegoro beserta seluruh pengikutnya meninggalkan Pasuruan menuju pegunungan Malang. Pasuruan berhasil dikuasai kompeni, selanjutnya mereka membangun sebuah Loji di desa Gembong. Loji yang sangat kuat itu dilengkapi dengan sepasang meriam dan dijaga oleh serdadu kompeni. Tumenggung Jatida diangkat sebagai bupati yang memerintah Pasuruan di bawah perlindungan Sunan Pakubuwono.</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah berhasil memenangkan pertempuran, Pangeran Purbaya dan pengikutnya kembali ke Kartasura, Adipati Cakraningrat dan pengikutnya kembali ke Sampang. Dalam perjalanan pulang ke Madura, secara mendadak Adipati Cakraningrat sakit parah, dan ketika perjalanan sampai di desa Kamal beliau meninggal dunia. Jenazahnya diteruskan ke Sampang dan dimakamkan di sana. Sementara itu Adipati Jangrono juga kembali ke Surabaya, namun beliau sedikit cemas karena menyadari persekutuannya dengan Keluarga Untung Suropati sudah diketahui kompeni.</p>
<p style="text-align:justify;">Kanjeng Sunan Pakubuwono belum puas karena Sunan Mas tidak tertangkap, beliau memerintahkan putranya yang bernama Pangeran Blitar (Pangeran Blater) menangkap Sunan Mas. Dengan disertai prajurit Kartasura dalam jumlah besar, Pangeran Blitar berangkat menuju Malang. Sunan Mas dan para putra Untung Suropati sudah mengetahui akan datangnya serangan. Mereka mempersiapkan perlawanan di luar kota. Pangeran Blitar dan prajuritnya sudah sampai di Malang, pertempuran hebat kembali berkobar. Prajurit Malang yang hanya sedikit jumlahnya tidak kuasa menahan serbuan prajurit Mataram. Anak keturunan Untung Suropati beserta pengikutnya terpaksa meninggalkan pertempuran. Sunan Mas dan seluruh prajuritnya berlari ke gunung Dungkul untuk menyelamatkan diri. Setelah berhasil menguasai Malang, Pangeran Blitar membangun sebuah pesanggrahan dan segera kembali ke Kartasura dengan membawa harta rampasan perang.</p>
<p style="text-align:justify;">Ketiga putra Untung Suropati dan pengikutnya bersembunyi di tengah hutan sambil menyusun rencana untuk melakukan serangan balasan. Untuk menghindari pantauan musuh, mereka sering berpindah-pindah tempat dan terkadang memakai nama samaran. Nama samaran yang biasa digunakan adalah nama orang Bali, mengingat Untung Suropati asal-usulnya dari Bali. Sejak pertahanannya terakhir di pegunungan Malang jatuh ke tangan Pangeran Blitar, Adipati Wironegoro berganti nama Raden Tirtonoto. Selama dalam persembunyian mereka terus melakukan berbagai perlawanan gerilya seperti pencegatan, penyerangan tiba-tiba dan menyadarkan rakyat agar memberontak kompeni Belanda.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jagadsurodipo.wordpress.com/568/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jagadsurodipo.wordpress.com/568/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jagadsurodipo.wordpress.com/568/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jagadsurodipo.wordpress.com/568/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jagadsurodipo.wordpress.com/568/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jagadsurodipo.wordpress.com/568/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jagadsurodipo.wordpress.com/568/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jagadsurodipo.wordpress.com/568/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jagadsurodipo.wordpress.com/568/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jagadsurodipo.wordpress.com/568/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jagadsurodipo.wordpress.com/568/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jagadsurodipo.wordpress.com/568/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jagadsurodipo.wordpress.com/568/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jagadsurodipo.wordpress.com/568/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jagadsurodipo.wordpress.com&amp;blog=6532790&amp;post=568&amp;subd=jagadsurodipo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jagadsurodipo.wordpress.com/2010/11/01/perlawanan-keturunan-untung-suropati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cd725a1044b7893644ad9ca967ccf328?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Sudradiningrat</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Gugur Di Medan Bakti</title>
		<link>http://jagadsurodipo.wordpress.com/2010/10/14/gugur-di-medan-bakti/</link>
		<comments>http://jagadsurodipo.wordpress.com/2010/10/14/gugur-di-medan-bakti/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Oct 2010 11:08:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sudradiningrat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Untung Suropati]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jagadsurodipo.wordpress.com/?p=488</guid>
		<description><![CDATA[Keberadaan Untung Suropati yang didukung seluruh rakyat Pasuruan terus menjadi ancanam bagi kompeni Untuk menghilangkan ancaman tersebut, tahun 1706 Gubernur Jendral kompeni di Batavia menunjuk Mayor Govert Knol memimpin penyerangan besar-besaran ke Kadipaten Pasuruan. Pada bulan September serdadu kompeni sudah berkumpul di Surabaya bersama prajurit dari Madura dan prajurit Adipati Jangrono. Secara diam-diam Adipati Wironegoro [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jagadsurodipo.wordpress.com&amp;blog=6532790&amp;post=488&amp;subd=jagadsurodipo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Keberadaan Untung Suropati yang didukung seluruh rakyat Pasuruan terus menjadi ancanam bagi kompeni Untuk menghilangkan ancaman tersebut, tahun 1706 Gubernur Jendral kompeni di Batavia menunjuk Mayor Govert Knol memimpin penyerangan besar-besaran ke Kadipaten Pasuruan. Pada bulan September serdadu kompeni sudah berkumpul di Surabaya bersama prajurit dari Madura dan prajurit Adipati Jangrono. Secara diam-diam Adipati Wironegoro dan Adipati Jangrono sudah bersepakat menggagalkan penyerangan. Mereka menyusun rencana penggagalan dengan cara halus sehingga kompeni tidak mengetahuinya.</p>
<p style="text-align:justify;">Adipati Jangrono memerintahkan agar prajurit Surabaya yang dipercaya sebagai penunjuk jalan melewati medan berat berawa-rawa, terkadang menyeberangi telaga luas dan dalam.Serdadu kompeni menghadapi kesulitan luar biasa, mereka berjuang keras mengusung meriam yang jumlahnya sangat banyak. Mayor Knol mencurigai prajurit Surabaya sengaja menyesatkan jalan tetapi dia tidak berani melakukan tindakan apa-apa. Knol berusaha menghindari kesalahapahaman dengan orang-orang Surabaya agar tidak membuat suasana menjadi semakin buruk.  Setelah melewati medan panjang yang melelahkan, serdadu kompeni sampai di desa Derma untuk kembali menyusun kekuatan. Serdadu kompeni tiada henti mengumpat prajurit Surabaya, mereka sadar sudah dijeremuskan dalam medan yang sangat sulit dan tidak semestinya dilalui oleh pasukan tempur.</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah kekuatan serdadunya pulih, Mayor Knol memimpin serangan besar-besaran  ke Bangil yang merupakan benteng pertahanan terdepan Kadipaten Pasuruan dari arah Surabaya. Kompeni menghujani musuh dengan bedil dan tembakan meriam. Adipati Wironegoro mengamuk bagai banteng ketaton, secepat kilat dapat berpindah di segala tempat sehingga Adipati Wironegoro menjadi banyak dan berada di mana-mana. Prajurit Surabaya yang terlibat dalam pertempuran itu terlihat tidak bersungguh-sungguh, malah sepertinya hanya main-main saja. Prajurit Pasuruan yang berhadapan dengan orang-orang Surabaya secepat mungkin pergi menjauh. Mayor Knol sangat membenci tindakan orang-orang Surabaya, tetapi sekali lagi dia harus menahan kemarahannya kepada Adipati Jangrono.</p>
<p style="text-align:justify;">Orang-orang Madura kurang memahami taktik pertempuran yang sedang digelar, mereka mengamuk dengan sekuat tenaga sehingga banyak prajurit Pasuruan yang terluka dan terbunuh. Pasukan Pasuruan menjadi berang, mereka membalas tindakan orang-orang Madura dengan sungguh-sungguh bertempur. Akibatnya banyak prajurit Madura yang roboh, bahkan salah seorang putra Adipati Cakraningrat tewas dalam pertempuran.  Kesalahapahaman itu sangat berbahaya bagi keselamatan kedua belah pihak. Adipati Wironegoro secara rahasia mengirim utusan untuk minta maaf dan menjelasakan duduk persoalan kepada Adipati Cakraningrat, dan akhirnya kesalahpahaman itu dapat diatasi secara baik-baik.</p>
<p style="text-align:justify;">Pasukan kompeni sangat gentar menghadapi musuh dengan segudang kadigdayan yang tidak masuk akal. Kehadiran Untung Suropati terlihat berada di semua tempat dalam waktu bersamaan sangat menyulitkan serdadu Belanda. Mereka menjadi bingung dan ragu-ragu dalam bertempur. Raden Suropati dan Raden Surodilogo juga sangat memusingkan kompeni, mereka berdua tidak mempan oleh peluru dan meriam. Baratus-ratus korban berjatuhan dari kedua belah pihak. Serdadu kompeni mulai terdesak dari pertempuran, tapi mereka terus menghujani lawan dengan meriam seakan tidak ada hentinya. Prajurit Pasuruan kesulitan menerobos meriam yang menyalak bertubi-tubi.</p>
<p style="text-align:justify;">Tiba-tiba terdengar gemuruh prajurit Pasuruan, mereka berteriak histeris melihat pemimpinnya terjatuh dari kuda. Sudah menjadi takdir Gusti Allah,  Adipati Wironegoro tertembak lambungnya dan terluka parah. Para pengawal segera mengusung Sang Adipati dengan tandu menyingkir dari pertempuran. Raden Surodilogo beserta prajuritnya meneruskan perlawanan dengan sekuat tenaga, tetapi karena sudah tidak ada pemimpinnya, benteng Bangil jatuh ke tangan kompeni. Prajurit Untung Suropati berhamburan meninggalkan palagan, mereka kembali ke Pasuruan untuk mempertahankan pusat pemerintahan.</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah Bangil dapat dikuasai kompeni, Adipati Jangrono menyarankan kepada Mayor Knol agar pasukan segera ditarik kembali ke Surabaya. Rencana penyerangan ke Pasuruan sebaiknya ditunda dahulu sambil menyusun kekuatan yang baru. Mayor Knol keberatan dengan saran itu, tetapi Adipati Jangrono terus mendesak dengan berbagai alasan. Beliau mengancam tidak akan ikut dalam pertempuran kalau serdadu Belanda nekad diberangkatkan menggempur Pasuruan. Sikap keras dan tegas Jangrono membuat Mayor Knol berpikir ulang, terlebih lagi saat itu hujan turun sangat lebat dan semangat tempur serdadunya memang sangat menurun. Dengan terpaksa Mayor Knol memenuhi keinginan Adipati Jangrono, dia segera memerintahkan pasukannya kembali ke Surabaya.</p>
<p style="text-align:justify;">Adipati Wironegoro berada di pesanggrahan desa Randa Telu untuk menjalani perawatan. Dalam kondisi semakin parah Sang Adipati berpesan supaya anak-anaknya meneruskan perlawanan. Adipati Wironegoro melarang anak keturunannya bersahabat dengan orang-orang Belanda, jika ada yang melanggar maka dia akan terkena kutukan Untung Suropati. Beliau juga memberi wasiat apabila meninggal kuburnya jangan diberi tanda agar tidak ada yang mengetahui Untung Suropati sudah gugur. Tanggal 5 Nopember 1706 Adipati Wironegoro wafat. Sepeninggal ayahandanya, Raden Surahim menggantikan jumeneng adipati di Pasuruan dengan mengambil nama abhiseka Adipati Wironegoro II. Seluruh anak keturunan Untung Suropati bertekad terus melawan penjajah Belanda sampai tetes darah penghabisan.</p>
<p style="text-align:justify;">Adipati Wironegoro II dan dua adiknya kembali membangun kekuatan Kadipaten Pasuruan yang tercerai-berai sepeninggal Untung Suropati. Mereka sadar betul pasukan kompeni pasti akan datang ke Pasuruan untuk menumpas sisa-sisa kekuatan yang masih ada. Raden Surodilogo sangat giat menghimpun para pemuda Pasuruan dan sekitarnya untuk diajadikan prajurit. Setiap hari mereka dilatih ilmu kaprajuritan dan diberikan ilmu kadigdayan sebagai bekal membela negeri Pasuruan. Sang Adipati dan Raden Suropati terus berusaha menjalin hubungan dengan Kadipaten Surabaya agar mereka bersedia memberikan dukungan baik material (bala prajurit) maupun non material (diplomasi).</p>
<p style="text-align:justify;">Perhitungan Adipati Wironegoro sungguh tidak meleset, Tahun 1707 pasukan kompeni kembali menyerang Pasuruan. Prajurit Mataram di bawah pimpinan Pangeran Purbaya ikut serta dalam penyerangan itu. Mereka berangkat dari Kartasura melalui Bengawan Solo dan Brantas. Dari Surabaya kompeni juga memberangkatkan serdadu dalam jumlah besar. Sunan Pakubuwono memerintahkan Adipati Cakraningrat dan Adipati Jangrono agar bergabung dengan serdadu kompeni, mereka ditugaskan menangkap Sunan Mas beserta pengikutnya. Orang-orang Surabaya dan Madura sudah bergerak menuju Wirasaba (Mojoagung), kemudian menuju Kediri bergabung dengan pasukan dari Kartasura.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jagadsurodipo.wordpress.com/488/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jagadsurodipo.wordpress.com/488/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jagadsurodipo.wordpress.com/488/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jagadsurodipo.wordpress.com/488/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jagadsurodipo.wordpress.com/488/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jagadsurodipo.wordpress.com/488/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jagadsurodipo.wordpress.com/488/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jagadsurodipo.wordpress.com/488/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jagadsurodipo.wordpress.com/488/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jagadsurodipo.wordpress.com/488/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jagadsurodipo.wordpress.com/488/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jagadsurodipo.wordpress.com/488/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jagadsurodipo.wordpress.com/488/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jagadsurodipo.wordpress.com/488/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jagadsurodipo.wordpress.com&amp;blog=6532790&amp;post=488&amp;subd=jagadsurodipo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jagadsurodipo.wordpress.com/2010/10/14/gugur-di-medan-bakti/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cd725a1044b7893644ad9ca967ccf328?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Sudradiningrat</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jumeneng Adipati Pasuruan</title>
		<link>http://jagadsurodipo.wordpress.com/2010/10/14/jumeneng-adipati-pasuruan/</link>
		<comments>http://jagadsurodipo.wordpress.com/2010/10/14/jumeneng-adipati-pasuruan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Oct 2010 11:07:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sudradiningrat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Untung Suropati]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jagadsurodipo.wordpress.com/?p=486</guid>
		<description><![CDATA[Tiga hari setelah pertemuan di kraton Kartasura, Untung Suropati, Raden Ayu Gusik Kusumo, Nerangkusumo beserta seluruh prajuritnya berangkat menuju Pasuruan. Mereka membawa persenjataan dan perbekalan dalam jumlah yang mencukupi. Perjalanan jauh itu dilalui dengan penuh semangat karena di Pasuruan mereka akan mendapatkan negeri baru yang memberi kebahagian lahir batin. Untuk mengelabuhi kompeni Sunan Amangkurat mengirimkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jagadsurodipo.wordpress.com&amp;blog=6532790&amp;post=486&amp;subd=jagadsurodipo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="text-align:justify;">
<p>Tiga hari setelah pertemuan di kraton Kartasura,    Untung Suropati, Raden Ayu Gusik Kusumo, Nerangkusumo beserta seluruh    prajuritnya berangkat menuju Pasuruan. Mereka membawa persenjataan dan    perbekalan dalam jumlah yang mencukupi. Perjalanan jauh itu dilalui    dengan penuh semangat karena di Pasuruan mereka akan mendapatkan negeri    baru yang memberi kebahagian lahir batin. Untuk mengelabuhi kompeni    Sunan Amangkurat mengirimkan prajurit Mataram yang seolah-olah mengejar    kepergian mereka. Tetapi pengejaran itu dihentikan ketika sampai di    tapal batas timur Madiun dan kembali lagi ke Kartasura.</p>
<p>Untung Suropati mulai menundukkan para    bupati agar mengakui kekuasaannya. Setapak demi setapak para bupati    menyatakan tunduk dengan damai, mereka sudah mendengar berita tentang    keperkasaan Untung Suropati dan pasukannya. Tetapi beberapa bupati    terpaksa ditundukkan melalui peperangan. Dalam waktu singkat Kadipaten    Pasuruan dan seluruh wilayahnya berhasil dikuasai Untung Suropati.     Selanjutnya Untung Suropati dinobatkan sebagai Adipati Pasuruan dengan    mengambil nama abhiseka <strong>Adipati Wironegoro</strong>,  sesuai dengan titah Kanjeng Sunan Amangkurat di Kartasura.</p>
<p>Kompeni di Batavia tidak dapat berbuat    banyak terhadap Pasuruan. Hampir dua puluh tahun Kadipaten Pasuruan    terbebas dari ancaman kompeni. Rakyat hidup tentram lahir batin di bawah    pimpinan Adipati Wironegoro. Nerangkusumo diberi kekuasaan memimpin    tanah perdikan yang sangat luas di sekitar Bangil. Gusik Kusumo sangat    berbahagia mendampingi suaminya, terlebih lagi mereka dikaruniai tiga    orang putra yang gagah seperti ayahnya. Putra pertama bernama Raden    Surahim, putra ke dua bernama Raden Suropati dan putra bungsu bernama    Raden Surodilogo.</p>
<p>Perkembangan Kadipaten Pasuruan yang    sangat cepat membuat cemas kompeni Belanda. Bala prajurit Adipati    Wironegoro terus bertembah besar dan kuat, selain itu mereka mempunyai    banyak ilmu kadigdayan yang sangat sulit dilawan. Kadipaten Pasuruan    benar-benar menjadi sebuah negara mandiri dan tidak terikat pada    kekuasaan Mataram di Kartasura. Kompeni sama sekali tidak dapat    melakukan tekanan atau memaksakan kepentingannya kepada Untung Suropati    melalui kekuasaan Mataram. Keberadaan Pasuruan merupakan ancaman  serius   bagi kelangsungan kompeni di tanah Jawa. Untuk itulah kompeni  Belanda   dengan sekuat tenaga berusaha agar Untung Suropati dan seluruh    keturunannya  harus dilenyapkan dari gelanggang politik dan  kekuasaan.</p>
<p>Tahun 1703 di Kartasura terjadi    perubahan pemerintahan, Sunan Amangkurat II wafat dan digantikan oleh    Pangeran Adipati Anom (putra mahkota), beliau menggunakan gelar Sunan    Amangkurat III (Sunan Mas). Sejak awal penobatan Sunan Mas sudah banyak    sentana kraton yang tidak setuju, mereka menilai putra mahkota tidak    layak menjadi raja karena perbuatannya kurang terpuji, terutama dalam    urusan perempuan. Mereka mengkhawatirkan Kartasura akan kehilangan    kewibawaan kerana dipimpin seorang raja yang tindak-tanduknya tidak    terpuji.</p>
<p>Ketika belum dinobatkan sebagai raja,    Adipati Anom pernah melakukan perbuatan buruk yang sulit dilupakan oleh    keluarga kraton Kartasura. Putra sulung Pangeran Puger yang bernama    Raden Ajeng Lembah adalah istri Kanjeng Adipati Anom. Lembah dituduh    berbuat serong dengan seorang lelaki putra Patih Sindurejo yang bernama    Raden Sukro. Karena merasa tidak berbuat seperti tuduhan suaminya,    Lembah memilih purik (pulang ke rumah orang tuanya). Adipati Anom tidak    menjemput istrinya, tetapi malah menyuruh mertuanya membunuh Raden   Ajeng  Lembah. Tindakan Adipati Anom sangat memukul keluarga Pugeran,   mereka  sama sekali tidak menyangka Adipati Anom tega melakukan itu   kepada sanak  saudaranya sendiri.</p>
<p>Dengan sangat terpaksa Pangeran Puger    memenuhi tuntutan menantunya. Beliau memerintahkan semua saudara Lembah    untuk membunuh kakaknya sendiri. Diiringi ratap tangis dan duka yang    dalam mereka melaksanakan perintah ayahandanya. Raden Ajeng Lembah    menemui ajal dan jasadnya dimakamkan di sebelah barat kraton Kartasura.    Sesudah istrinya meninggal, Adipati Anom memerintahkan orang    kepercayaannya untuk membunuh Raden Sukro. Pada waktu Adipati Anom sudah    dinobatkan sebagai raja, salah seorang putra Pangeran Puger yang    bernama Raden Mas Suryokusumo sangat marah kepada Kanjeng Sunan. Beliau    meninggalkan Kartasura dan menghimpun kekuatan untuk melakukan    pemberontakan. Kanjeng Sunan Mas segera mengirimkan bala prajurit untuk    menangkap Suryokusumo. Setelah tertangkap, Suryokusumo dimasukkan  dalam   keranjang dan diarak keliling kota. Meskipun sudah disakiti  hatinya,   Pangeran Puger masih bisa menahan diri dan tetap setia kepada  Sunan Mas.</p>
<p>Perbuatan Sunan Mas semakin lepas    kendali, beliau tega berbuat serong dengan salah seorang istri Adipati    Cakraningrat. Adipati dari Madura itu tidak mampu menahan amarahnya,    beliau tidak akan mengampuni kesalahan Sunan Mas. Dari berbagai    kesalahan yang dilakukan Sunan Mas, akhirnya menjadi pemicu api    pemberontakan. Adipati Cakraningrat (Madura), Adipati Jangrono    (Surabaya) dan para pejabat kraton sudah sepakat hendak menggulingkan    Sunan Mas, kemudian menobatkan Pangeran Puger sebagai raja Kartasura.</p>
<p>Meskipun memiliki tabiat kurang baik,    namun Sunan mas adalah seorang yang anti kepada Belanda. Saat    penobatannya dulu, beliau hanya mengirim surat pemberitahuan kepada    kompeni melalui prajurit rendahan.  Lebih jauh lagi Sunan Mas tidak    bersedia memperbaharui kontrak dan menolak membayar hutang Mataram    kepada kompeni yang ditinggalkan jaman Sunan Amangkurat II. Sunan Mas    juga menjalin hubungan yang sangat baik dengan adipati Pasuruan, hal itu    semakin menambah ketidaksenangan kompeni kepada beliau. Hubungan yang    harmonis dengan Untung Suropati akan sangat mengancam keberadaan   kompeni  di tanah Jawa.</p>
<p>Masa pemerintahan Sunan Mas hanya    berlangsung sangat singkat karena tahun 1704 Pangeran Puger yang    didukung berbagai kekuatan tidak mengakui kekuasaan Sunan Mas. Kompeni    yang sejak awal sudah berseberangan dengan Sunan Mas segera  memanfaatkan   situasi politik di Kartasura. Dengan dukungan kompeni,  Pangeran Puger   jumeneng raja Mataram bergelar Sunan Pakubuwono.  Penobatan itu  dilakukan  di Semarang. Sunan Pakubuwono beserta  pengikutnya berangkat  ke  Kartasura untuk merebut pusat pemerintahan.  Menyadari kekuatan   pendukungnya tidak sebanding, Sunan Mas  meninggalkan kraton sebelum   Sunan Pakubuwono melakukan penyerangan.  Sunan Pakubuwono berhasil   menguasai Kartasura tanpa ada perlawanan.  Kraton sudah dalam keadaan   kosong, sehingga sama sekali tidak ada  korban sia-sia di medan laga.</p>
<p>Kompeni pintar mengail di air keruh,    setelah penobatan raja Kartasura, kompeni menganjukan tuntutan atas    semua bantuan yang telah diberikan kepada Pangeran Puger. Kerajaan    Mataram harus menyerahkan wilayah Jepara, Tegal, Demak dan belahan timur    Madura kepada kompeni. Di samping itu Sunan Pakubuwono harus    memperbaharui kontrak dan mengangsur semua hutang Mataram kepada    kompeni. Tuntutan kompeni terpaksa dipenuhi karena Pangeran Puger sudah    kalah dalam perjanjian. Kebesaran Mataram mulai pudar akibat para    generasi penerus saling berebut kekuasaan yang pada akhirnya justru    memberi angin kepada kompeni Belanda untuk menancapkan taring penjajahan    di tanah Jawa.</p>
<p>Sunan Mas terlunta-lunta nasibnya, prajuritnya sudah tercerai berai dan kekuasaan sudah lenyap dari genggaman. Kerajaan Mataram yang diwarisi dari ayahandanya telah berpindah ke tangan pamannya (Pangeran Puger). Dalam hati sebenarnya beliau menyesali tindakannya yang tidak mau bekerjasama dengan kompeni. Tetapi semua itu sudah berlalu dan tidak mungkin terulang lagi. Kompeni terlanjur membenci Sunan Mas dan menganggapnya sebagai musuh. Selama dalam pelarian, Sunan Mas mendapat perlindungan di wilayah Pasuruan. Adipati Wironegoro menjamin keselamatan mantan raja Kartasura itu. Siapapun yang berani menyakiti Sunan Mas, dia akan berhadapan langsung dengan Untung Suropati. Hal itu sebagai balas budi atas kebaikan ayahanda Sunan Mas, ketika masih dalam kondisi yang serba sulit Untung Suropati juga mendapat pengayoman di kraton Kartasura.</p>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jagadsurodipo.wordpress.com/486/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jagadsurodipo.wordpress.com/486/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jagadsurodipo.wordpress.com/486/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jagadsurodipo.wordpress.com/486/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jagadsurodipo.wordpress.com/486/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jagadsurodipo.wordpress.com/486/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jagadsurodipo.wordpress.com/486/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jagadsurodipo.wordpress.com/486/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jagadsurodipo.wordpress.com/486/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jagadsurodipo.wordpress.com/486/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jagadsurodipo.wordpress.com/486/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jagadsurodipo.wordpress.com/486/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jagadsurodipo.wordpress.com/486/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jagadsurodipo.wordpress.com/486/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jagadsurodipo.wordpress.com&amp;blog=6532790&amp;post=486&amp;subd=jagadsurodipo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jagadsurodipo.wordpress.com/2010/10/14/jumeneng-adipati-pasuruan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cd725a1044b7893644ad9ca967ccf328?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Sudradiningrat</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pertempuran Di Kartasura</title>
		<link>http://jagadsurodipo.wordpress.com/2010/10/14/pertempuran-di-kartasura/</link>
		<comments>http://jagadsurodipo.wordpress.com/2010/10/14/pertempuran-di-kartasura/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Oct 2010 10:56:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sudradiningrat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Untung Suropati]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jagadsurodipo.wordpress.com/?p=479</guid>
		<description><![CDATA[Pada malam hari Patih Nerangkusumo dan Pangeran Adipati Anom datang ke kampung Babirong. Dua pembesar kerajaan itu mengatakan bahwa kompeni mengancam Sunan Amangkurat agar menyerahkan Untung. Apabila tidak dilaksanakan, kompeni akan melakukan kekerasan. Sri Sunan dianggap bersalah karena menerima orang-orang asing di Kartasura tanpa sepengatahuan kompeni. Sunan Amangkurat memberi perintah agar Untung ikut memikirkan masalah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jagadsurodipo.wordpress.com&amp;blog=6532790&amp;post=479&amp;subd=jagadsurodipo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Pada malam hari Patih Nerangkusumo dan Pangeran Adipati Anom datang ke kampung Babirong. Dua pembesar kerajaan itu mengatakan bahwa kompeni mengancam Sunan Amangkurat agar menyerahkan Untung. Apabila tidak dilaksanakan, kompeni akan melakukan kekerasan. Sri Sunan dianggap bersalah karena menerima orang-orang asing di Kartasura tanpa sepengatahuan kompeni. Sunan Amangkurat memberi perintah agar Untung ikut memikirkan masalah tersebut. Untung Suropati menjawab dirinya tetap berada di belakang Sunan Amangkurat, dia akan terus berjuang melawan kompeni sampai tetes darah penghabisan. Patih Nerangkusumo dan Pangeran Adipati Anom sangat puas dengan jawaban itu, kemudian mereka berdua segera meninggalkan Babirong.</p>
<p style="text-align:justify;">Kraton Kartasura mengirimkan empat orang pembesar kerajaan menyambut kedatangan Kapten Tack di Semarang. Setelah melakukan perjalanan selama lima hari dari Semarang, Kapten Tack beserta pasukannya sampai di Banyudono. Seorang opsir datang menghadap sambil menyerahkan sepucuk surat dari Kapten Grevink. Surat itu menyebutkan bahwa Patih Nerangkusumo minta agar prajurit Mataram diperbolehkan menangkap Untung dan pengikutnya. Surat itu dibalas singkat yang isinya menyatakan kompeni tidak keberatan. Kapten Tack mengucapkan terima kasih atas kerjasama orang-orang Mataram. Beberapa saat kemudian datang pejabat kraton menjemput Kapten Tack diiringkan menghadap Kanjeng Sunan.</p>
<p style="text-align:justify;">Untung Suropati dan pasukannya memperkuat pertahanan di Kampung Babirong. Seluruh pasukannya sudah bersenjata lengkap dan mengenakan seragam putih berdesatar kain merah. Tidak lama berselang Adipati Cakraningrat disertai pasukannya datang ke Babirong. Kampung Babirong telah dikepung ribuan prajurit dari berbagai penjuru. Adipati Cakraningrat menemui Untung Suropati di dalam rumahnya, kemudian mengatakan bahwa kedatangannya untuk menangkap dan menyerahkan Untung kepada kompeni. Untung Suropati sangat marah, dia menantang Cakraningrat bertempur sampai mati. Mendengar jawaban itu Adipati Cakraningrat bergegas keluar rumah dan kembali pada pasukannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Raden Ayu Gusik Kusumo menyampaikan pesan Kanjeng Patih agar Untung keluar dari Babirong sambil menerobos prajurit Mataram dan secepatnya mencari perlindungan di dalam Kraton. Pasukan Kartasura akan membukakan jalan bagi Untung. Sedapat mungkin pasukan Untung menghindari pertempuran dengan prajurit Madura. Untung menjadi bimbang karena tidak tahu-menahu dengan semua rencana para petinggi Mataram. Untuk meyakinkan suaminya, Gusik Kusumo menyerahkan pusaka Kyai Kolomisani agar digunakan dalam pertempuran. Kyai Kolomisani adalah pusaka warisan dari Adipati Trunojoyo (ayahanda Gusik Kusumo) yang pernah digunakan bertempur melawan Mataram. Tanpa membuang waktu Untung Suropati berlari ke arah pasukannya untuk memimpin pertempuran. Sepeninggal suaminya, Gusik Kusumo dan pengikutnya segera membakar kampung Babirong. Dalam sekejap api berkobar hebat dan menimbulkan kepanikan luar biasa.</p>
<p style="text-align:justify;">Untung Suropati dan pasukannya menyerang musuh yang mengepung Babirong. Pertempuran berlangsung sangat seru, kobaran api telah sampai di mana-mana membuat suasana semakin kacau tak menentu. Suara bedil  bersahutan dan teriakan para prajurit yang sedang bertempur menggema memenuhi setiap penjuru. Ketika Untung dan pasukannya menerobos prajurit Mataram, secara serentak mereka memberi kesempatan kepada Untung keluar dari Babirong. Untung Suropati segera bergerak menuju kraton, sepanjang perjalanan prajuritnya mengamuk dan membakar rumah-rumah penduduk. Kobaran api semakin merajalela di setiap tempat, Kartasura berubah menjadi lautan api yang sangat mengerikan.</p>
<p style="text-align:justify;">Kapten Tack sangat bingung menghadapi situasi yang bergerak sangat cepat. Api terus berkobar di mana-mana, udara di belakang kraton berwarna merah karena cahaya api yang membara di kampung Babirong. Asap tebal kehitaman bergumpal memenuhi angkasa dan di beberapa tempat terjadi pertempuran hebat. Tiba-tiba dari arah timur kraton Adipati Cakraningrat dan pasukannya berlarian menghampiri Kapten tack. Sang Adipati menuturkan bila Untung sedang mengamuk dan pasukan Madura tidak mampu menanindingi. Kapten tack segera menyiapkan pasukannya di luar alun-alun Kartasura. Van Vliet menunggang kuda menuju ke dalam kraton untuk menemui Sri Sunan. Ketika Van Vliet bertemu Kanjeng Sunan, beliau mengatakan baru saja datang dari bepergian dan belum mengetahui kejadian yang menimpa kerajaannya. Sunan juga mengaku tidak tahu-menahu di mana Untung Suropati berada. Van Vliet sangat kecewa dan segera kembali kepada pasukannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Untung Suropati menyerang Loji kompeni yang berada di sebelah barat alun-alun, puluhan mayat serdadu kompeni bergelimpangan. Prajurit Mataram dan serdadu kompeni mengepung pasukan Untung dan memaksa agar menyerahkan diri. Untung pantang menyerah, dengan segala kekuatannya dia menerobos pasukan musuh dan menyeberangi sungai menuju ke tengah alun-alun. Pertempuran sangat dahsyat berkobar di alun-alun Kartasura. Serdadu kompeni menembaki Untung dengan bedil, namun peluru itu mampu melukai tubuhnya. Seorang prajurit dari Madura menusuk Untung dengan tombak dari belakang, Untung hanya tersenyum karena tombak itu patah ketika menyentuh kulitnya. Dalam pertempuran itu  sangat sulit membedakan siapa kawan dan siapa lawan, karena secara diam-diam prajurit Mataram juga ikut menyerang serdadu kompeni.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan membawa tombak Kyai Plered, Pangeran Puger dan pasukannya ikut terjun dalam pertempuran. Pasukan kompeni tidak mampu menahan serangan lawan yang datang dari semua penjuru. Serdadu kompeni tercerai berai, mereka berhamburan meninggalkan medan laga untuk menyelamatkan diri. Kapten Tack menemui ajal di ujung tombak Kyai Plered. Seluruh sisa-sisa serdadu yang tertinggal dihabisi oleh prajurit Mataram  Pertempuran yang penuh rekayasa itu berakhir dengan kekalahan di pihak kompeni. Kapten Tack, Van Vliet, Letnan Van der Meer, Letnan Vonk dan sejumlah 1255 serdadu kompeni tewas mengenaskan.</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah peperangan usai, di dalam kraton diadakan pertemuan penting yang dihadiri  Kanjeng Sunan Amangkurat, Pangeran Adipati Anom, Pangeran Puger, Patih Nerangkusumo dan Untung Suropati. Mereka membicarakan tentang masa depan Kartasura setelah terjadi peperangan. Sri Sunan bersabda agar kedudukan Mataram tidak terancam sebaiknya Untung Suropati dan Nerangkusumo meninggalkan Kartasura, sebab kompeni sudah mengetahui perbuatan mereka. Kanjeng Sunan menganugerahkan Kadipaten Pasuruan beserta seluruh wilayahnya kepada Untung Suropati untuk dijadikan sebuah pemerintahan baru. Saat itu Pasuruan sedang dikuasai oleh para pemberontak yang membangkang kepada Kartasura. Selain itu Untung Suropati juga dianugerahi nama Tumenggung Wironegoro.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jagadsurodipo.wordpress.com/479/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jagadsurodipo.wordpress.com/479/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jagadsurodipo.wordpress.com/479/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jagadsurodipo.wordpress.com/479/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jagadsurodipo.wordpress.com/479/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jagadsurodipo.wordpress.com/479/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jagadsurodipo.wordpress.com/479/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jagadsurodipo.wordpress.com/479/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jagadsurodipo.wordpress.com/479/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jagadsurodipo.wordpress.com/479/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jagadsurodipo.wordpress.com/479/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jagadsurodipo.wordpress.com/479/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jagadsurodipo.wordpress.com/479/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jagadsurodipo.wordpress.com/479/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jagadsurodipo.wordpress.com&amp;blog=6532790&amp;post=479&amp;subd=jagadsurodipo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jagadsurodipo.wordpress.com/2010/10/14/pertempuran-di-kartasura/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cd725a1044b7893644ad9ca967ccf328?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Sudradiningrat</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menabur Bakti Di Kartasura</title>
		<link>http://jagadsurodipo.wordpress.com/2010/10/14/menabur-bhakti-di-kartasura/</link>
		<comments>http://jagadsurodipo.wordpress.com/2010/10/14/menabur-bhakti-di-kartasura/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Oct 2010 10:52:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sudradiningrat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Untung Suropati]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jagadsurodipo.wordpress.com/?p=476</guid>
		<description><![CDATA[Setiap hari Senin di alun-alun diadakan pertunjukkan sodoran, yang ikut bermain perang-perangan adalah para pemuka kraton. Masing-masing peserta menunggang kuda dan mengenakan pakaian gemerlap. Kanjeng Sunan beserta para pembesar kerajaan selalu hadir menyaksikan pertunjukkan itu dari sitinggil. Permainan segera dimulai, para peserta berpasang-pasangan menunggang kuda sambil bertempur. masing-masing berusaha menjatuhkan lawan dari kudanya. Dalam permainan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jagadsurodipo.wordpress.com&amp;blog=6532790&amp;post=476&amp;subd=jagadsurodipo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Setiap hari Senin di alun-alun diadakan pertunjukkan sodoran, yang ikut bermain perang-perangan adalah para pemuka kraton. Masing-masing peserta menunggang kuda dan mengenakan pakaian gemerlap. Kanjeng Sunan beserta para pembesar kerajaan selalu hadir menyaksikan pertunjukkan itu dari sitinggil. Permainan segera dimulai, para peserta berpasang-pasangan menunggang kuda sambil bertempur. masing-masing berusaha menjatuhkan lawan dari kudanya. Dalam permainan itu ada seorang peserta yang tidak terkalahkan, gerakannya sangat tangkas dan siapa saja yang mendekat pasti dapat dijatuhkan. Orang itu adalah Untung Suropati, dia ikut dalam permainan atas perintah Nerangkusumo dengan tujuan agar Kanjeng Sunan dapat menyaksikan  ketangkasan pemuda itu dalam bertempur.</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah acara sodoran berakhir, Patih Nerangkusumo membawa Untung menghadap Baginda. Beliau menceritakan sejarah Untung sepanjang yang diketahuinya. Selanjutnya Nerangkusumo mohon agar Untung beserta pengikutnya diangkat sebagai prajurit Mataram. Kanjeng Sunan tertarik dengan penampilan Untung sehingga beliau berkenan mengabulkan keinginan Patih Mangkubumi, namun Untung tidak langsung dijadikan sebagai prajurit Mataram. Untuk sementara mereka diangkat menjadi pasukan khusus pengawal Sri Sunan. Dengan cara seperti itu Kanjeng Sunan dapat mengetahui dengan jelas kemampuan Untung Suropati yang sebenarnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah Untung diterima sebagai prajurit pengawal, Kanjeng Patih mengutarakan lagi satu rencananya. Agar Untung Suropati secara lahir batin mengabdi untuk kepentingan Mataram, Nerangkusumo berniat menjodohkan Untung dengan Gusik Kusumo. Meskipun Nerangkusumo yang merawat Gusik Kusumo sejak kecil, tapi putri itu dalah kemenakan Sunan Amangkurat, jadi Kanjeng Patih wajib minta restu kepada beliau. Kanjeng Sunan menyerahkan sepenuhnya kepada Nerangkusumo, tetapi beliau berpesan agar dapat menjaga rahasia serapi mungkin. Lambat laun kompeni pasti mengetahui dan datang ke Kartasura untuk menangkap Untung Suropati.</p>
<p style="text-align:justify;">Patih Nerangkusumo menuturkan permasalahan itu kepada putrinya. Meskipun agak malu-malu Raden Ayu Gusik Kusumo tidak menolak keinginan ayahandanya, terlebih lagi sebenarnya dia juga sudah menaruh hati kepada Untung Suropati. Atas perkenan Gusti Allah, pada tahun 1864 Raden Ayu Gusik Kusumo dan Untung Suropati dinikahkan. Pesta pernikahan berlangsung sangat meriah. Semua tamu yang hadir mengelu-elukan kecantikan Gusik Kusumo dan ketampanan Untung Suropati. Kanjeng Sunan Amangkurat yang hadir dalam pesta itu tersenyum bahagia, disertai harapan semoga kelak Untung Suropati benar-benar dapat diandalkan sebagai kekuatan Mataram.</p>
<p style="text-align:justify;">Kanjeng Sunan Amangkurat sangat menyayangi Untung Suropati dan istrinya, sehingga beliau berkenan memberikan ganjaran berupa kampung Babirong kepada Untung sebagai tempat tinggal dan persembunyian dari pengawasan kompeni. Di kampung Babirong para pengikut Untung Suropati setiap hari berlatih kemiliteran. Mereka semua sadar bila sewaktu-waktu akan datang serangan dari kompeni, sehingga dari hari ke hari mereka terus giat berlatih tanpa mengenal lelah.</p>
<p style="text-align:justify;">Lokasi kampung Babirong berada di sebelah barat daya kraton Kartasura. Kampung itu dikelilingi papringan (rumpun bambu) yang sangat lebat dan tanahnya naik-turun seperti daerah pegunungan. Karena kondisinya penuh dengan semak belukar, banyak babi (celeng) bersarang di sana. Mungkin itulah yang menjadikan daerah itu dinamakan Babirong, artinya sarang celeng. Pada jaman Sunan Pakubuwono I bertahta di Kartasura, kampung Babirong diubah fungsinya menjadi pesanggrahan (tempat peristirahatan) yang di dalamnya dipelihara ribuan menjangan. Di tempat tersebut juga dibangun segaran (danau buatan) sehingga pemandangannya menjadi sangat mempesona. Kampung Babirong berubah menjadi lahan berburu bagi Raja dan keluarga bangsawan. Dalam berburu biasanya mereka memasang grogol (perangkap binatang), sehingga tempat yang semula bernama Babirong berganti nama menjadi Grogolan. Setelah Indonesia merdeka tempat tersebut digunakan sebagai markas Kopassus Group 2 Kartasura.</p>
<p style="text-align:justify;">Berita keberadaan Untung Suropati akhirnya terdengar di Batavia, Gubernur Jendral sangat marah dan menuduh Sunan Amangkurat  melindungi seorang musuh kompeni. Tahun 1685 kompeni mengangkat Kapten Tack dan Van Vliet sebagai utusan istimewa ke Kartasura. Dengan disertai serdadu dalam jumlah besar mereka berdua berangkat ke Kartasura menggunakan kapal perang dan bersandar di Jepara kemudian melanjutkan perjalan ke Semarang melalui jalan darat.</p>
<p style="text-align:justify;">Kanjeng Sunan dan para petinggi Kartasura berunding untuk menghadapi kedatangan Kapten Tack. Mereka berniat melawan kompeni tetapi tidak secara terang-terangan. Patih Nerangkusumo mengajukan siasat pertempuran kepada Kanjeng Sunan, yakni Untung Suropati dan pasukannya digunakan sebagai umpan untuk menghancurkan pasukan kompeni yang masuk ke Kartasura. Pada tahap awal Untung dibuat seolah-olah memberontak Mataram, kemudian Adipati Cakraningrat bertugas melawan pasukan Untung Suropati. Kompeni diperintahkan membantu Cakraningrat yang berpura-pura kalah perang. Setelah terjadi pertempuran besar, seluruh kekuatan Mataram dikerahkan untuk menghancurkan serdadu kompeni. Para petinggi kraton sepakat dengan rencana itu, masing-masing petinggi mendapat tugas sesuai dengan kewenangannya.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jagadsurodipo.wordpress.com/476/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jagadsurodipo.wordpress.com/476/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jagadsurodipo.wordpress.com/476/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jagadsurodipo.wordpress.com/476/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jagadsurodipo.wordpress.com/476/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jagadsurodipo.wordpress.com/476/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jagadsurodipo.wordpress.com/476/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jagadsurodipo.wordpress.com/476/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jagadsurodipo.wordpress.com/476/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jagadsurodipo.wordpress.com/476/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jagadsurodipo.wordpress.com/476/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jagadsurodipo.wordpress.com/476/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jagadsurodipo.wordpress.com/476/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jagadsurodipo.wordpress.com/476/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jagadsurodipo.wordpress.com&amp;blog=6532790&amp;post=476&amp;subd=jagadsurodipo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jagadsurodipo.wordpress.com/2010/10/14/menabur-bhakti-di-kartasura/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cd725a1044b7893644ad9ca967ccf328?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Sudradiningrat</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Romantika Untung Suropati</title>
		<link>http://jagadsurodipo.wordpress.com/2010/10/14/romantika-untung-suropati/</link>
		<comments>http://jagadsurodipo.wordpress.com/2010/10/14/romantika-untung-suropati/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Oct 2010 10:30:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sudradiningrat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Untung Suropati]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jagadsurodipo.wordpress.com/?p=528</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa saat lamanya Untung tinggal di Cirebon, hingga pada suatu hari Kanjeng Sultan menyarankan agar Untung meneruskan perjalanan ke Kartasura. Sultan khawatir kompeni akan menyerang Cirebon, sementara kondisi kesultanan tidak memungkinkan melakukan perlawanan. Cirebon adalah kerajaan yang hanya memiliki prajurit dalam jumlah terbatas. Di Kartasura Untung akan mendapat pengayoman karena Kartasura memiliki prajurit yang sangat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jagadsurodipo.wordpress.com&amp;blog=6532790&amp;post=528&amp;subd=jagadsurodipo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Beberapa saat lamanya Untung tinggal di Cirebon, hingga pada suatu hari Kanjeng Sultan menyarankan agar Untung meneruskan perjalanan ke Kartasura. Sultan khawatir kompeni akan menyerang Cirebon, sementara kondisi kesultanan tidak memungkinkan melakukan perlawanan. Cirebon adalah kerajaan yang hanya memiliki prajurit dalam jumlah terbatas. Di Kartasura Untung akan mendapat pengayoman karena Kartasura memiliki prajurit yang sangat besar. Ayah angkat Gusik Kusumo adalah Patih Mangkubumi. Untung Suropati memahami hal itu, sebenarnya dia bersama kawan-kawannya juga sudah berencana meninggalkan Kesultanan Cirebon. Mereka terpaksa bertahan di Cirebon karena menunggu keputusan Gusik Kusumo.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada waktu yang hampir bersamaan Gusik Kusumo mengutarakan niatnya untuk pulang ke Kartasura. Sang Putri sudah sangat rindu kepada keluarganya di Mataram dan harus secepatnya diberitahu kalau dirinya sudah bercerai dengan Pangeran Purbaya. Pernikahannya dengan Purbaya dulu adalah atas kehendak Sunan Amangkurat, jadi apapun yang terjadi harus dilaporkan ke Mataram. Kanjeng Sultan memberikan perbekalan yang cukup untuk keberangkatan mereka. Beliau juga mengijinkan orang-orang Bali, Madura dan Makassar yang hidup bergelandangan di Cirebon bergabung dengan Untung Suropati. Setelah berpamitan kepada Kanjeng Sultan, rombongan Untung dan Gusik Kusumo meninggalkan Cirebon dengan perasaan sangat terharu.</p>
<p style="text-align:justify;">Perjalanan yang sangat jauh dan melelahkan itu dilalui dengan semangat yang tinggi, sebab mereka semua mempunyai harapan yang besar untuk dapat hidup bahagia lahir batin. Selama dalam perjalanan Gusik Kusumo selalu memperhatikan tindak-tanduk Untung Suropati. Terkadang dia berkhayal kalau saja suaminya dulu memiliki jiwa satria yang berani menentang kompeni, tentulah akan sangat berbahagia. Dalam hati wanita itu mulai tumbuh perasaan lain tiap kali menatap wajah Untung Suropati, namun dia berhasil menguasai perasaan itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Untung Suropati sampai di desa Ajibarang, masih termasuk wilayah Banyumas. Penduduk desa menyambut kedatangan mereka dengan ramah. Sebagian penduduk Ajibarang menuturkan kalau Banyumas sedang diduduki gerombolan pemberontak. Bupati Banyumas tidak mampu menghadapi pemberontakan itu dan terpaksa lari meninggalkan kota. Gusik Kusumo mengajak Untung dan kawan-kawannya menumpas pemberontakan itu. Sebagai anggota keluarga kraton Kartasura, Gusik Kusumo wajib menjaga kewibawaan Mataram. Untung Suropati tidak keberatan memenuhi permintaan Gusik Kusumo. Hanya dalam waktu singkat saja pemberontakan tersebut sudah dapat dikalahkan. Setelah pemberontakan dipadamkan, Bupati Banyumas diajak ke Kartasura agar melaporkan kondisi wilayahnya kepada Sunan Amangkurat.</p>
<p style="text-align:justify;">Rombongan Untung Suropati sampai di Kartasura dengan selamat. Alun-alun Kartasura tampak sangat anggun memancarkan kewibawaan. Di sebelah utara membentang sungai Jenes yang dalam dan jernih airnya. Sungai Jenes memanjang bagai ular melingkar tepat di sebelah barat dan bermata air di kawasan Pengging. Sepanjang tepian sungai terhampar pereng (tanah miring) sangat luas, sehingga alun-alun dan kraton berada pada tempat yang lebih tinggi dari sekitarnya. Sepasang ringin kurung berdiri kokoh sebagai simbol pengayoman dan keperkasaan. Alun-alun kartasura juga dihiasi dengan dua buah blumbang (kolam) penuh dengan air jernih dan ditumbuhi bunga teratai. Kolam itu diberi nama Blumbang Sari dan Blumbang Rejo. Berbagai kembang warna-warni bertebaran rapi di tepian alun-alun menjadi pesona yang tidak terkira. Di sebelah barat benteng kraton ditanami pohon pucang tak terbilang jumlahnya, sehingga kalau siang hari udara di dalam kraton terasa sangat sejuk.</p>
<p style="text-align:justify;">Kedatangan Untung Suropati di Kartasura disambut dengan suka cita sebab Gusik Kusumo adalah putri angkat Patih Nerangkusumo. Untung Suropati beserta kawan-kawannya diterima sebagai tamu kehormatan di Mangkubumen. Gusik Kusumo menceritakan semua pengalamannya hingga sampai bertemu dengan Untung dan pengikutnya. Apabila tidak ada Untung dan kawan-kawannya, tentulah Gusik Kusumo tidak dapat pulang ke Kartasura dengan selamat. Kanjeng patih prihatin atas nasib putrinya, namun beliau pasrah kepada kehendak Gusti Yang Maha Berkuasa. Beliau merasa berhutang budi kepada Untung, Kanjeng Patih berjanji akan mengabdikan Untung Suropati kepada kanjeng Sunan Amangkurat.</p>
<p style="text-align:justify;">Sejak Sunan Amangkurat memerintah Mataram dan menandatangani kontrak dengan kompeni, kedudukan beliau semakin terjepit. Banyak hal yang membuat kecawa Kanjeng Sunan. Penyerahan Cirebon kepada kompeni membawa akibat terpisahnya kasultanan itu dari Mataram yang berarti upeti dari Cirebon tidak lagi masuk ke Kartasura. Hutang kerajaan Mataram kepada kompeni sangat besar dan memberatkan keuangan negara. Rakyat Mataram banyak yang jatuh miskin akibat cicilan hutang yang harus dibayarkan kepada Belanda. Kanjeng Sunan sangat cemas setiap kali seorang pembesar kompeni datang ke Kartasura, beliau mengkhawatirkan kedatangan pembesar tersebut untuk menyita kekayaan kraton akibat beban hutang yang tidak terbayar.</p>
<p style="text-align:justify;">Kompeni sangat berjaya karena menjadi pemegang monopoli perdagangan yang dilakukan di seluruh daerah Mataram. Para residen kompeni yang ditempatkan di daerah-daerah pesisir sangat menikmati kemakmuran yang melimpah. Rata-rata mereka sangat haus uang dan sering menyalahgunakan kekuasaannya untuk mengisi kantongnya sendiri. Para residen memiliki hak untuk memungut bea dari semua barang-barang yang masuk melalui pelabuhan-pelabuhan di pesisir utara tanah Jawa. Pemungutan itu membuka pintu seluas-luasnya untuk menindas rakyat Mataram.</p>
<p style="text-align:justify;">Pembangunan benteng dan penempatan sejumlah serdadu kompeni di Kartasura telah nyata-nyata merongrong kedaulatan Mataram. Sejak semula penempatan serdadu itu dikatakan untuk melindungi Mataram, tetapi kenyataannya mereka adalah para mata-mata yang setiap saat mengintai seluk-beluk kegiatan pejabat kraton. Persahabatan Mataram dengan kompeni hanyalah persahabatan palsu yang hanya mebawa kerugian rakyat Jawa. Dalam hati Kanjeng Sunan Amangkurat dan para pejabat kraton muncul kebencian kepada kompeni, namun mereka tidak berani mengungkapan secara terbuka. Kondisi Mataram apabila diibiratkan seperti api di dalam sekam, sewaktu-waktu pasti akan membara dalam wujud perlawanan dahyat.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jagadsurodipo.wordpress.com/528/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jagadsurodipo.wordpress.com/528/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jagadsurodipo.wordpress.com/528/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jagadsurodipo.wordpress.com/528/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jagadsurodipo.wordpress.com/528/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jagadsurodipo.wordpress.com/528/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jagadsurodipo.wordpress.com/528/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jagadsurodipo.wordpress.com/528/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jagadsurodipo.wordpress.com/528/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jagadsurodipo.wordpress.com/528/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jagadsurodipo.wordpress.com/528/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jagadsurodipo.wordpress.com/528/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jagadsurodipo.wordpress.com/528/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jagadsurodipo.wordpress.com/528/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jagadsurodipo.wordpress.com&amp;blog=6532790&amp;post=528&amp;subd=jagadsurodipo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jagadsurodipo.wordpress.com/2010/10/14/romantika-untung-suropati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cd725a1044b7893644ad9ca967ccf328?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Sudradiningrat</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Asal-Usul Untung Suropati</title>
		<link>http://jagadsurodipo.wordpress.com/2010/10/14/asal-usul-untung-suropati/</link>
		<comments>http://jagadsurodipo.wordpress.com/2010/10/14/asal-usul-untung-suropati/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Oct 2010 10:16:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sudradiningrat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Untung Suropati]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jagadsurodipo.wordpress.com/?p=472</guid>
		<description><![CDATA[Untung Suropati lahir di Pulau Bali, nama aslinya Surawiroaji. Tersebutlah seorang pemuda bernama Untung, salah seorang narapidana yang menghuni penjara di Batavia. Sebelumnya dia seorang budak yang dipelihara keluarga Belanda sejak masih berumur tujuh tahun. Konon Untung  dipenjara  karena berani melawan majikannya. Sebenarnya Untung berasal dari keluarga bangsawan Bali yang menjadi tawanan perang serdadu Belanda [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jagadsurodipo.wordpress.com&amp;blog=6532790&amp;post=472&amp;subd=jagadsurodipo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="text-align:justify;">
<p><span style="color:#ff0000;"> </span></p>
<div id="attachment_546" class="wp-caption aligncenter" style="width: 219px"><img class="size-medium wp-image-546" title="untung-suropati" src="http://jagadsurodipo.files.wordpress.com/2010/10/untung-suropati.jpg?w=209&#038;h=272" alt="" width="209" height="272" /><p class="wp-caption-text">Untung Suropati</p></div>
<p><em><span style="color:#ff0000;">Untung Suropati lahir di Pulau Bali, nama aslinya Surawiroaji.</span></em></p>
<p>Tersebutlah  seorang pemuda bernama   Untung, salah seorang narapidana yang menghuni  penjara di Batavia.   Sebelumnya dia seorang budak yang dipelihara  keluarga Belanda sejak   masih berumur tujuh tahun. Konon Untung   dipenjara  karena berani   melawan majikannya. Sebenarnya Untung berasal  dari keluarga bangsawan   Bali yang menjadi tawanan perang serdadu Belanda  dan dibawa ke   Makassar. Setelah Untung berada di Makassar, Kapten Van  Beber   membawanya ke Batavia kemudian dijual sebagai budak kepada seorang    saudagar Belanda. Karena sejak kecil sudah berpisah dengan keluarganya,    maka tidak ada orang yang mengetahui riwayat asal-usulnya. Nama Untung    itu sendiri adalah nama <em>paraban</em> (alias) yang diberikan oleh majikannya, nama <em>garbhopati</em> (nama sejak lahir) yang diberikan orang tuanya adalah <strong>Surawiroaji</strong>.</p>
<p>Menurut silsilah keluarganya Surawiroaji alias Untung adalah <em>anak dar</em>i Jatiwiyasa, seorang keluarga bangsawan di Bali. Kakeknya bernama Tirtawijaya Sukma <em>anak dari</em> Karma Pujanggabuana <em>anak dari</em> Resi Mertadharma <em>anak dari</em> Sarataleksi <em>anak dari</em> Bharata Darwa Muksa <em>anak dari</em> Satya Putralaksana <em>anak dari</em> Kuwu Wika Kertaloka <em>anak dari</em> Prahma Putra Reksa <em>anak dari</em> Resi Wuluh Sedyaloka. Orang Jawa menyebut Resi Wuluh Sedyaloka dengan    nama Begawan Sidolaku, sastrawan terkenal dari Tabanan Bali. Ketika    masih muda Raden Ronggowarsito (Pujangga kraton Surakarta) pernah    belajar ke Tabanan untuk mempelajari kitab kasusastraan peninggalan Resi    Wuluh Sedyaloka.</p>
<p>Resi  Wuluh Sedyaloka adalah keturunan   Prabu Kertajaya, raja terakhir Panjalu  (Kediri) yang dikalahkan oleh   Ken Arok pada tahun 1222. Ketika pasukan  Ken Arok menyerbu istana   Kediri, Prabu Kertajaya berhasil melarikan diri  dengan diiringkan   ketiga istri dan beberapa abdi saja. Raja yang malang  ini bersembunyi   di lereng Gunung Semeru dan akhirnya menjadi seorang  pertapa. Tidak   lama berselang Ken Arok mencium keberadaan Prabu  Kertajaya, maka   ditugaskan bala tentaranya untuk menangkap lawan  politiknya tersebut.   Prabu Kertajaya berhasil lolos dalam pengejaran  hingga akhirnya   menemukan tempat yang aman di Pulau Bali. Prabu  Kertajaya mendapat   perlindungan dari penguasa di pulau dewata sebab  antara raja Jawa dan   Raja Bali masih memiliki hubungan darah.</p>
<p>Jadi  apabila dirunut ke atas, leluhur   Untung adalah gabungan dari wangsa  Dharmodayana (Prabu Udayana) yang   berkuasa di Bali dan wangsa Isana  (Empu Sindok) yang berkuasa di tanah   Jawa. Wangsa Isana adalah  kelanjutan dari wangsa Syailendra yang   mendirikan kerajaan Mataram  (Medang Kamulan) di lereng barat daya   gunung Merapi.</p>
<p>Untung  seorang pemuda berwajah tampan   dan halus tutur katanya. Dia sangat  pemberani namun berhati mulia,   sehingga selama di dalam penjara sangat  disegani kawan-kawannya. Pada   suatu kesempatan Untung memimpin para  narapidana melakukan perlawanan   kepada penjaga penjara. Penjara berhasil  dijebol, berbagai senjata   dirampas dan dibawa kabur. Kompeni  mengirimkan serdadu untuk menangkap   mereka, tetapi upaya itu tidak  membuahkan hasil. Untung dan  pengikutnya  justru membunuh beberapa  serdadu yang mengejarnya. Kompeni  semakin  marah kepada Untung dan  terus-menerus melakukan pengejaran.</p>
<p>Di  tengah perjalanan Untung bertemu   dengan janda Pangeran Purbaya yang  bernama Raden Ayu Gusik Kusumo,   mereka saling memperkenalkan diri serta  menceritakan riwayat   masing-masing. Gusik Kusumo terpaksa bercerai  dengan Pangeran Purbaya   karena suaminya akan menyerahkan diri kepada  Belanda, wanita tersebut   tidak  menyetujui niat suaminya. Sementara  Untung menceritakan kalau   dirinya menjadi buronan serdadu kompeni karena  melarikan diri dari   penjara bersama teman-temannya. Setelah saling  mengetahui riwayatnya,   mereka menyatakan keinginannya bersatu untuk  melawan  kompeni.  Gusik    Kusumo  mengajak  Untung dan pengikutnya  mencari perlindungan ke   Kasultanan Cirebon, karena Sultan Cirebon masih  mempunyai hubungan   keluarga dengannya. Setelah dipikir dengan matang,  Untung menyambut   baik ajakan tersebut, mereka segera bergerak menuju  Cirebon.</p>
<p>Sultan  Cirebon sangat gembira menerima   kedatangan Gusik Kusumo dan seluruh  teman-temannya. Wanita itu   menceritakan semua peristiwa yang dialami,  mulai dari kepergiannya   meninggalkan suami sampai pertemuannya dengan  Untung. Kanjeng Sultan   sangat prihatin akan nasib keponakannya, tetapi  beliau juga bangga.   Meskipun seorang wanita, Gusik Kusumo tidak gentar  melawan kompeni.   Sebagai ungkapan terima kasih kepada Untung yang sudah  mengawal   keponakannya, Untung dianugerahi nama Suropati oleh Sultan  Cirebon,   sehingga namanya menjadi Untung Suropati. Dalam ajaran  Jawa-Hindu nama   Suropati adalah sebutan lain dari Bathara Endra, yakni  rajanya para   dewa.</p>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jagadsurodipo.wordpress.com/472/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jagadsurodipo.wordpress.com/472/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jagadsurodipo.wordpress.com/472/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jagadsurodipo.wordpress.com/472/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jagadsurodipo.wordpress.com/472/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jagadsurodipo.wordpress.com/472/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jagadsurodipo.wordpress.com/472/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jagadsurodipo.wordpress.com/472/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jagadsurodipo.wordpress.com/472/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jagadsurodipo.wordpress.com/472/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jagadsurodipo.wordpress.com/472/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jagadsurodipo.wordpress.com/472/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jagadsurodipo.wordpress.com/472/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jagadsurodipo.wordpress.com/472/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jagadsurodipo.wordpress.com&amp;blog=6532790&amp;post=472&amp;subd=jagadsurodipo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jagadsurodipo.wordpress.com/2010/10/14/asal-usul-untung-suropati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cd725a1044b7893644ad9ca967ccf328?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Sudradiningrat</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jagadsurodipo.files.wordpress.com/2010/10/untung-suropati.jpg?w=230" medium="image">
			<media:title type="html">untung-suropati</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
