Penerus Untung Suropati

Standar

Sunan Mas beserta pasukannya yang berada di Kediri segera mempersiapkan diri untuk menghadang musuh. Pada saat yang sudah ditetentukan, serdadu kompeni dan bala prajurit Mataram menyerbu kota Kediri. Prajurit pengawal Kanjeng Sunan Mas memberikan perlawanan, pertempuran sengit berkobar di kota Kediri. Serdadu kompeni banyak yang menemui ajal, prajurit Madura juga banyak yang bersimbah darah menjadi korban pertempuran. Prajurit dari Surabaya hanya mendapat cidera ringan dan tidak ada yang terbunuh, hal itu membuat orang-orang kompeni semakin geram kepada Adipati Jangrono, dulu waktu menyerang Untung Suropati, Adipati Jangrono juga berbuat hal sama.

Seiring dengan datangnya malam, pertempuran segera dihentikan. Sunan Mas memerintahkan pasukannya agar mundur dari Kediri menuju Pasuruan. Kanjeng Sunan berencana menggabungkan prajuritnya dengan anak keturunan Untung Suropati. Keesokan harinya prajurit Mataram dan serdadu kompeni kembali memburu Sunan Mas, mereka sangat kecewa karena kota Kediri ternyata sudah kosong. Mereka mendapat kabar bila Kanjeng Sunan sudah pergi ke arah Pasuruan. Tanpa membuang waktu seluruh pasukan segera melakukan pengejaran.

Adipati Wironegoro sudah menyiapkan senopati perang beserta bala prajuritnya. Kanjeng Sunan Mas memberi perintah agar kedua putra beliau yakni Pangeran Pakunegoro dan Pangeran Pakudiningrat beserta prajuritnya bergabung dengan prajurit Pasuruan. Para Prajurit itu berangkat dari Pasuruan melalui Ngantang terus berbelok ke arah utara. Tidak lama berselang, mereka berpapasan dengan serdadu kompeni dan prajurit Mataram. Pertempuran terjadi di Carat, Wangkal dan di tanah datar Sangiri. Serdadu kompeni menghujni musuh dengan tembakan meriam, bala prajurit Pasuruan mulai kocar-kacir dan jumlah korban yang gugur di medan pertempuran terus bertambah banyak. Suropati dan Surodilogo memerintahkan agar pasukannya mundur dan kembali ke Pasuruan.

Pasukan kompeni mengejar sampai ke Pasuruan, dan segera melakukan pengepungan dari empat arah. Adipati Wironegoro beserta seluruh prajuritnya sekuat tenaga mempertahankan negeri Pasuruan. Serangan pihak musuh yang sangat dahsyat tidak mungkin ditahan lagi, seluruh prajurit Pasuruan sudah tercerai-berai. Sunan Mas dan Adipati Wironegoro beserta seluruh pengikutnya meninggalkan Pasuruan menuju pegunungan Malang. Pasuruan berhasil dikuasai kompeni, selanjutnya mereka membangun sebuah Loji di desa Gembong. Loji yang sangat kuat itu dilengkapi dengan sepasang meriam dan dijaga oleh serdadu kompeni. Tumenggung Jatida diangkat sebagai bupati yang memerintah Pasuruan di bawah perlindungan Sunan Pakubuwono.

Setelah berhasil memenangkan pertempuran, Pangeran Purbaya dan pengikutnya kembali ke Kartasura, Adipati Cakraningrat dan pengikutnya kembali ke Sampang. Dalam perjalanan pulang ke Madura, secara mendadak Adipati Cakraningrat sakit parah, dan ketika perjalanan sampai di desa Kamal beliau meninggal dunia. Jenazahnya diteruskan ke Sampang dan dimakamkan di sana. Sementara itu Adipati Jangrono juga kembali ke Surabaya, namun beliau sedikit cemas karena menyadari persekutuannya dengan Keluarga Untung Suropati sudah diketahui kompeni.

Kanjeng Sunan Pakubuwono belum puas karena Sunan Mas tidak tertangkap, beliau memerintahkan putranya yang bernama Pangeran Blitar (Pangeran Blater) menangkap Sunan Mas. Dengan disertai prajurit Kartasura dalam jumlah besar, Pangeran Blitar berangkat menuju Malang. Sunan Mas dan para putra Untung Suropati sudah mengetahui akan datangnya serangan. Mereka mempersiapkan perlawanan di luar kota. Pangeran Blitar dan prajuritnya sudah sampai di Malang, pertempuran hebat kembali berkobar. Prajurit Malang yang hanya sedikit jumlahnya tidak kuasa menahan serbuan prajurit Mataram. Anak keturunan Untung Suropati beserta pengikutnya terpaksa meninggalkan pertempuran. Sunan Mas dan seluruh prajuritnya berlari ke gunung Dungkul untuk menyelamatkan diri. Setelah berhasil menguasai Malang, Pangeran Blitar membangun sebuah pesanggrahan dan segera kembali ke Kartasura dengan membawa harta rampasan perang.

Ketiga putra Untung Suropati dan pengikutnya bersembunyi di tengah hutan sambil menyusun rencana untuk melakukan serangan balasan. Untuk menghindari pantauan musuh, mereka sering berpindah-pindah tempat dan terkadang memakai nama samaran. Nama samaran yang biasa digunakan adalah nama orang Bali, mengingat Untung Suropati asal-usulnya dari Bali. Sejak pertahanannya terakhir di pegunungan Malang jatuh ke tangan Pangeran Blitar, Adipati Wironegoro berganti nama Raden Tirtonoto. Selama dalam persembunyian mereka terus melakukan berbagai perlawanan gerilya seperti pencegatan, penyerangan tiba-tiba dan menyadarkan rakyat agar memberontak kompeni Belanda.

Gugur Di Medan Bakti

Standar

Keberadaan Untung Suropati yang didukung seluruh rakyat Pasuruan terus menjadi ancanam bagi kompeni Untuk menghilangkan ancaman tersebut, tahun 1706 Gubernur Jendral kompeni di Batavia menunjuk Mayor Govert Knol memimpin penyerangan besar-besaran ke Kadipaten Pasuruan. Pada bulan September serdadu kompeni sudah berkumpul di Surabaya bersama prajurit dari Madura dan prajurit Adipati Jangrono. Secara diam-diam Adipati Wironegoro dan Adipati Jangrono sudah bersepakat menggagalkan penyerangan. Mereka menyusun rencana penggagalan dengan cara halus sehingga kompeni tidak mengetahuinya.

Adipati Jangrono memerintahkan agar prajurit Surabaya yang dipercaya sebagai penunjuk jalan melewati medan berat berawa-rawa, terkadang menyeberangi telaga luas dan dalam.Serdadu kompeni menghadapi kesulitan luar biasa, mereka berjuang keras mengusung meriam yang jumlahnya sangat banyak. Mayor Knol mencurigai prajurit Surabaya sengaja menyesatkan jalan tetapi dia tidak berani melakukan tindakan apa-apa. Knol berusaha menghindari kesalahapahaman dengan orang-orang Surabaya agar tidak membuat suasana menjadi semakin buruk.  Setelah melewati medan panjang yang melelahkan, serdadu kompeni sampai di desa Derma untuk kembali menyusun kekuatan. Serdadu kompeni tiada henti mengumpat prajurit Surabaya, mereka sadar sudah dijeremuskan dalam medan yang sangat sulit dan tidak semestinya dilalui oleh pasukan tempur.

Setelah kekuatan serdadunya pulih, Mayor Knol memimpin serangan besar-besaran  ke Bangil yang merupakan benteng pertahanan terdepan Kadipaten Pasuruan dari arah Surabaya. Kompeni menghujani musuh dengan bedil dan tembakan meriam. Adipati Wironegoro mengamuk bagai banteng ketaton, secepat kilat dapat berpindah di segala tempat sehingga Adipati Wironegoro menjadi banyak dan berada di mana-mana. Prajurit Surabaya yang terlibat dalam pertempuran itu terlihat tidak bersungguh-sungguh, malah sepertinya hanya main-main saja. Prajurit Pasuruan yang berhadapan dengan orang-orang Surabaya secepat mungkin pergi menjauh. Mayor Knol sangat membenci tindakan orang-orang Surabaya, tetapi sekali lagi dia harus menahan kemarahannya kepada Adipati Jangrono.

Orang-orang Madura kurang memahami taktik pertempuran yang sedang digelar, mereka mengamuk dengan sekuat tenaga sehingga banyak prajurit Pasuruan yang terluka dan terbunuh. Pasukan Pasuruan menjadi berang, mereka membalas tindakan orang-orang Madura dengan sungguh-sungguh bertempur. Akibatnya banyak prajurit Madura yang roboh, bahkan salah seorang putra Adipati Cakraningrat tewas dalam pertempuran.  Kesalahapahaman itu sangat berbahaya bagi keselamatan kedua belah pihak. Adipati Wironegoro secara rahasia mengirim utusan untuk minta maaf dan menjelasakan duduk persoalan kepada Adipati Cakraningrat, dan akhirnya kesalahpahaman itu dapat diatasi secara baik-baik.

Pasukan kompeni sangat gentar menghadapi musuh dengan segudang kadigdayan yang tidak masuk akal. Kehadiran Untung Suropati terlihat berada di semua tempat dalam waktu bersamaan sangat menyulitkan serdadu Belanda. Mereka menjadi bingung dan ragu-ragu dalam bertempur. Raden Suropati dan Raden Surodilogo juga sangat memusingkan kompeni, mereka berdua tidak mempan oleh peluru dan meriam. Baratus-ratus korban berjatuhan dari kedua belah pihak. Serdadu kompeni mulai terdesak dari pertempuran, tapi mereka terus menghujani lawan dengan meriam seakan tidak ada hentinya. Prajurit Pasuruan kesulitan menerobos meriam yang menyalak bertubi-tubi.

Tiba-tiba terdengar gemuruh prajurit Pasuruan, mereka berteriak histeris melihat pemimpinnya terjatuh dari kuda. Sudah menjadi takdir Gusti Allah,  Adipati Wironegoro tertembak lambungnya dan terluka parah. Para pengawal segera mengusung Sang Adipati dengan tandu menyingkir dari pertempuran. Raden Surodilogo beserta prajuritnya meneruskan perlawanan dengan sekuat tenaga, tetapi karena sudah tidak ada pemimpinnya, benteng Bangil jatuh ke tangan kompeni. Prajurit Untung Suropati berhamburan meninggalkan palagan, mereka kembali ke Pasuruan untuk mempertahankan pusat pemerintahan.

Setelah Bangil dapat dikuasai kompeni, Adipati Jangrono menyarankan kepada Mayor Knol agar pasukan segera ditarik kembali ke Surabaya. Rencana penyerangan ke Pasuruan sebaiknya ditunda dahulu sambil menyusun kekuatan yang baru. Mayor Knol keberatan dengan saran itu, tetapi Adipati Jangrono terus mendesak dengan berbagai alasan. Beliau mengancam tidak akan ikut dalam pertempuran kalau serdadu Belanda nekad diberangkatkan menggempur Pasuruan. Sikap keras dan tegas Jangrono membuat Mayor Knol berpikir ulang, terlebih lagi saat itu hujan turun sangat lebat dan semangat tempur serdadunya memang sangat menurun. Dengan terpaksa Mayor Knol memenuhi keinginan Adipati Jangrono, dia segera memerintahkan pasukannya kembali ke Surabaya.

Adipati Wironegoro berada di pesanggrahan desa Randa Telu untuk menjalani perawatan. Dalam kondisi semakin parah Sang Adipati berpesan supaya anak-anaknya meneruskan perlawanan. Adipati Wironegoro melarang anak keturunannya bersahabat dengan orang-orang Belanda, jika ada yang melanggar maka dia akan terkena kutukan Untung Suropati. Beliau juga memberi wasiat apabila meninggal kuburnya jangan diberi tanda agar tidak ada yang mengetahui Untung Suropati sudah gugur. Tanggal 5 Nopember 1706 Adipati Wironegoro wafat. Sepeninggal ayahandanya, Raden Surahim menggantikan jumeneng adipati di Pasuruan dengan mengambil nama abhiseka Adipati Wironegoro II. Seluruh anak keturunan Untung Suropati bertekad terus melawan penjajah Belanda sampai tetes darah penghabisan.

Adipati Wironegoro II dan dua adiknya kembali membangun kekuatan Kadipaten Pasuruan yang tercerai-berai sepeninggal Untung Suropati. Mereka sadar betul pasukan kompeni pasti akan datang ke Pasuruan untuk menumpas sisa-sisa kekuatan yang masih ada. Raden Surodilogo sangat giat menghimpun para pemuda Pasuruan dan sekitarnya untuk diajadikan prajurit. Setiap hari mereka dilatih ilmu kaprajuritan dan diberikan ilmu kadigdayan sebagai bekal membela negeri Pasuruan. Sang Adipati dan Raden Suropati terus berusaha menjalin hubungan dengan Kadipaten Surabaya agar mereka bersedia memberikan dukungan baik material (bala prajurit) maupun non material (diplomasi).

Perhitungan Adipati Wironegoro sungguh tidak meleset, Tahun 1707 pasukan kompeni kembali menyerang Pasuruan. Prajurit Mataram di bawah pimpinan Pangeran Purbaya ikut serta dalam penyerangan itu. Mereka berangkat dari Kartasura melalui Bengawan Solo dan Brantas. Dari Surabaya kompeni juga memberangkatkan serdadu dalam jumlah besar. Sunan Pakubuwono memerintahkan Adipati Cakraningrat dan Adipati Jangrono agar bergabung dengan serdadu kompeni, mereka ditugaskan menangkap Sunan Mas beserta pengikutnya. Orang-orang Surabaya dan Madura sudah bergerak menuju Wirasaba (Mojoagung), kemudian menuju Kediri bergabung dengan pasukan dari Kartasura.

Jumeneng Adipati Pasuruan

Standar

Tiga hari setelah pertemuan di kraton Kartasura, Untung Suropati, Raden Ayu Gusik Kusumo, Nerangkusumo beserta seluruh prajuritnya berangkat menuju Pasuruan. Mereka membawa persenjataan dan perbekalan dalam jumlah yang mencukupi. Perjalanan jauh itu dilalui dengan penuh semangat karena di Pasuruan mereka akan mendapatkan negeri baru yang memberi kebahagian lahir batin. Untuk mengelabuhi kompeni Sunan Amangkurat mengirimkan prajurit Mataram yang seolah-olah mengejar kepergian mereka. Tetapi pengejaran itu dihentikan ketika sampai di tapal batas timur Madiun dan kembali lagi ke Kartasura.

Untung Suropati mulai menundukkan para bupati agar mengakui kekuasaannya. Setapak demi setapak para bupati menyatakan tunduk dengan damai, mereka sudah mendengar berita tentang keperkasaan Untung Suropati dan pasukannya. Tetapi beberapa bupati terpaksa ditundukkan melalui peperangan. Dalam waktu singkat Kadipaten Pasuruan dan seluruh wilayahnya berhasil dikuasai Untung Suropati.  Selanjutnya Untung Suropati dinobatkan sebagai Adipati Pasuruan dengan mengambil nama abhiseka Adipati Wironegoro,  sesuai dengan titah Kanjeng Sunan Amangkurat di Kartasura.

Kompeni di Batavia tidak dapat berbuat banyak terhadap Pasuruan. Hampir dua puluh tahun Kadipaten Pasuruan terbebas dari ancaman kompeni. Rakyat hidup tentram lahir batin di bawah pimpinan Adipati Wironegoro. Nerangkusumo diberi kekuasaan memimpin tanah perdikan yang sangat luas di sekitar Bangil. Gusik Kusumo sangat berbahagia mendampingi suaminya, terlebih lagi mereka dikaruniai tiga orang putra yang gagah seperti ayahnya. Putra pertama bernama Raden Surahim, putra ke dua bernama Raden Suropati dan putra bungsu bernama Raden Surodilogo.

Perkembangan Kadipaten Pasuruan yang sangat cepat membuat cemas kompeni Belanda. Bala prajurit Adipati Wironegoro terus bertembah besar dan kuat, selain itu mereka mempunyai banyak ilmu kadigdayan yang sangat sulit dilawan. Kadipaten Pasuruan benar-benar menjadi sebuah negara mandiri dan tidak terikat pada kekuasaan Mataram di Kartasura. Kompeni sama sekali tidak dapat melakukan tekanan atau memaksakan kepentingannya kepada Untung Suropati melalui kekuasaan Mataram. Keberadaan Pasuruan merupakan ancaman serius bagi kelangsungan kompeni di tanah Jawa. Untuk itulah kompeni Belanda dengan sekuat tenaga berusaha agar Untung Suropati dan seluruh keturunannya  harus dilenyapkan dari gelanggang politik dan kekuasaan.

Tahun 1703 di Kartasura terjadi perubahan pemerintahan, Sunan Amangkurat II wafat dan digantikan oleh Pangeran Adipati Anom (putra mahkota), beliau menggunakan gelar Sunan Amangkurat III (Sunan Mas). Sejak awal penobatan Sunan Mas sudah banyak sentana kraton yang tidak setuju, mereka menilai putra mahkota tidak layak menjadi raja karena perbuatannya kurang terpuji, terutama dalam urusan perempuan. Mereka mengkhawatirkan Kartasura akan kehilangan kewibawaan kerana dipimpin seorang raja yang tindak-tanduknya tidak terpuji.

Ketika belum dinobatkan sebagai raja, Adipati Anom pernah melakukan perbuatan buruk yang sulit dilupakan oleh keluarga kraton Kartasura. Putra sulung Pangeran Puger yang bernama Raden Ajeng Lembah adalah istri Kanjeng Adipati Anom. Lembah dituduh berbuat serong dengan seorang lelaki putra Patih Sindurejo yang bernama Raden Sukro. Karena merasa tidak berbuat seperti tuduhan suaminya, Lembah memilih purik (pulang ke rumah orang tuanya). Adipati Anom tidak menjemput istrinya, tetapi malah menyuruh mertuanya membunuh Raden Ajeng Lembah. Tindakan Adipati Anom sangat memukul keluarga Pugeran, mereka sama sekali tidak menyangka Adipati Anom tega melakukan itu kepada sanak saudaranya sendiri.

Dengan sangat terpaksa Pangeran Puger memenuhi tuntutan menantunya. Beliau memerintahkan semua saudara Lembah untuk membunuh kakaknya sendiri. Diiringi ratap tangis dan duka yang dalam mereka melaksanakan perintah ayahandanya. Raden Ajeng Lembah menemui ajal dan jasadnya dimakamkan di sebelah barat kraton Kartasura. Sesudah istrinya meninggal, Adipati Anom memerintahkan orang kepercayaannya untuk membunuh Raden Sukro. Pada waktu Adipati Anom sudah dinobatkan sebagai raja, salah seorang putra Pangeran Puger yang bernama Raden Mas Suryokusumo sangat marah kepada Kanjeng Sunan. Beliau meninggalkan Kartasura dan menghimpun kekuatan untuk melakukan pemberontakan. Kanjeng Sunan Mas segera mengirimkan bala prajurit untuk menangkap Suryokusumo. Setelah tertangkap, Suryokusumo dimasukkan dalam keranjang dan diarak keliling kota. Meskipun sudah disakiti hatinya, Pangeran Puger masih bisa menahan diri dan tetap setia kepada Sunan Mas.

Perbuatan Sunan Mas semakin lepas kendali, beliau tega berbuat serong dengan salah seorang istri Adipati Cakraningrat. Adipati dari Madura itu tidak mampu menahan amarahnya, beliau tidak akan mengampuni kesalahan Sunan Mas. Dari berbagai kesalahan yang dilakukan Sunan Mas, akhirnya menjadi pemicu api pemberontakan. Adipati Cakraningrat (Madura), Adipati Jangrono (Surabaya) dan para pejabat kraton sudah sepakat hendak menggulingkan Sunan Mas, kemudian menobatkan Pangeran Puger sebagai raja Kartasura.

Meskipun memiliki tabiat kurang baik, namun Sunan mas adalah seorang yang anti kepada Belanda. Saat penobatannya dulu, beliau hanya mengirim surat pemberitahuan kepada kompeni melalui prajurit rendahan.  Lebih jauh lagi Sunan Mas tidak bersedia memperbaharui kontrak dan menolak membayar hutang Mataram kepada kompeni yang ditinggalkan jaman Sunan Amangkurat II. Sunan Mas juga menjalin hubungan yang sangat baik dengan adipati Pasuruan, hal itu semakin menambah ketidaksenangan kompeni kepada beliau. Hubungan yang harmonis dengan Untung Suropati akan sangat mengancam keberadaan kompeni di tanah Jawa.

Masa pemerintahan Sunan Mas hanya berlangsung sangat singkat karena tahun 1704 Pangeran Puger yang didukung berbagai kekuatan tidak mengakui kekuasaan Sunan Mas. Kompeni yang sejak awal sudah berseberangan dengan Sunan Mas segera memanfaatkan situasi politik di Kartasura. Dengan dukungan kompeni, Pangeran Puger jumeneng raja Mataram bergelar Sunan Pakubuwono. Penobatan itu dilakukan di Semarang. Sunan Pakubuwono beserta pengikutnya berangkat ke Kartasura untuk merebut pusat pemerintahan. Menyadari kekuatan pendukungnya tidak sebanding, Sunan Mas meninggalkan kraton sebelum Sunan Pakubuwono melakukan penyerangan. Sunan Pakubuwono berhasil menguasai Kartasura tanpa ada perlawanan. Kraton sudah dalam keadaan kosong, sehingga sama sekali tidak ada korban sia-sia di medan laga.

Kompeni pintar mengail di air keruh, setelah penobatan raja Kartasura, kompeni menganjukan tuntutan atas semua bantuan yang telah diberikan kepada Pangeran Puger. Kerajaan Mataram harus menyerahkan wilayah Jepara, Tegal, Demak dan belahan timur Madura kepada kompeni. Di samping itu Sunan Pakubuwono harus memperbaharui kontrak dan mengangsur semua hutang Mataram kepada kompeni. Tuntutan kompeni terpaksa dipenuhi karena Pangeran Puger sudah kalah dalam perjanjian. Kebesaran Mataram mulai pudar akibat para generasi penerus saling berebut kekuasaan yang pada akhirnya justru memberi angin kepada kompeni Belanda untuk menancapkan taring penjajahan di tanah Jawa.

Sunan Mas terlunta-lunta nasibnya, prajuritnya sudah tercerai berai dan kekuasaan sudah lenyap dari genggaman. Kerajaan Mataram yang diwarisi dari ayahandanya telah berpindah ke tangan pamannya (Pangeran Puger). Dalam hati sebenarnya beliau menyesali tindakannya yang tidak mau bekerjasama dengan kompeni. Tetapi semua itu sudah berlalu dan tidak mungkin terulang lagi. Kompeni terlanjur membenci Sunan Mas dan menganggapnya sebagai musuh. Selama dalam pelarian, Sunan Mas mendapat perlindungan di wilayah Pasuruan. Adipati Wironegoro menjamin keselamatan mantan raja Kartasura itu. Siapapun yang berani menyakiti Sunan Mas, dia akan berhadapan langsung dengan Untung Suropati. Hal itu sebagai balas budi atas kebaikan ayahanda Sunan Mas, ketika masih dalam kondisi yang serba sulit Untung Suropati juga mendapat pengayoman di kraton Kartasura.

Pertempuran Di Kartasura

Standar

Pada malam hari Patih Nerangkusumo dan Pangeran Adipati Anom datang ke kampung Babirong. Dua pembesar kerajaan itu mengatakan bahwa kompeni mengancam Sunan Amangkurat agar menyerahkan Untung. Apabila tidak dilaksanakan, kompeni akan melakukan kekerasan. Sri Sunan dianggap bersalah karena menerima orang-orang asing di Kartasura tanpa sepengatahuan kompeni. Sunan Amangkurat memberi perintah agar Untung ikut memikirkan masalah tersebut. Untung Suropati menjawab dirinya tetap berada di belakang Sunan Amangkurat, dia akan terus berjuang melawan kompeni sampai tetes darah penghabisan. Patih Nerangkusumo dan Pangeran Adipati Anom sangat puas dengan jawaban itu, kemudian mereka berdua segera meninggalkan Babirong.

Kraton Kartasura mengirimkan empat orang pembesar kerajaan menyambut kedatangan Kapten Tack di Semarang. Setelah melakukan perjalanan selama lima hari dari Semarang, Kapten Tack beserta pasukannya sampai di Banyudono. Seorang opsir datang menghadap sambil menyerahkan sepucuk surat dari Kapten Grevink. Surat itu menyebutkan bahwa Patih Nerangkusumo minta agar prajurit Mataram diperbolehkan menangkap Untung dan pengikutnya. Surat itu dibalas singkat yang isinya menyatakan kompeni tidak keberatan. Kapten Tack mengucapkan terima kasih atas kerjasama orang-orang Mataram. Beberapa saat kemudian datang pejabat kraton menjemput Kapten Tack diiringkan menghadap Kanjeng Sunan.

Untung Suropati dan pasukannya memperkuat pertahanan di Kampung Babirong. Seluruh pasukannya sudah bersenjata lengkap dan mengenakan seragam putih berdesatar kain merah. Tidak lama berselang Adipati Cakraningrat disertai pasukannya datang ke Babirong. Kampung Babirong telah dikepung ribuan prajurit dari berbagai penjuru. Adipati Cakraningrat menemui Untung Suropati di dalam rumahnya, kemudian mengatakan bahwa kedatangannya untuk menangkap dan menyerahkan Untung kepada kompeni. Untung Suropati sangat marah, dia menantang Cakraningrat bertempur sampai mati. Mendengar jawaban itu Adipati Cakraningrat bergegas keluar rumah dan kembali pada pasukannya.

Raden Ayu Gusik Kusumo menyampaikan pesan Kanjeng Patih agar Untung keluar dari Babirong sambil menerobos prajurit Mataram dan secepatnya mencari perlindungan di dalam Kraton. Pasukan Kartasura akan membukakan jalan bagi Untung. Sedapat mungkin pasukan Untung menghindari pertempuran dengan prajurit Madura. Untung menjadi bimbang karena tidak tahu-menahu dengan semua rencana para petinggi Mataram. Untuk meyakinkan suaminya, Gusik Kusumo menyerahkan pusaka Kyai Kolomisani agar digunakan dalam pertempuran. Kyai Kolomisani adalah pusaka warisan dari Adipati Trunojoyo (ayahanda Gusik Kusumo) yang pernah digunakan bertempur melawan Mataram. Tanpa membuang waktu Untung Suropati berlari ke arah pasukannya untuk memimpin pertempuran. Sepeninggal suaminya, Gusik Kusumo dan pengikutnya segera membakar kampung Babirong. Dalam sekejap api berkobar hebat dan menimbulkan kepanikan luar biasa.

Untung Suropati dan pasukannya menyerang musuh yang mengepung Babirong. Pertempuran berlangsung sangat seru, kobaran api telah sampai di mana-mana membuat suasana semakin kacau tak menentu. Suara bedil  bersahutan dan teriakan para prajurit yang sedang bertempur menggema memenuhi setiap penjuru. Ketika Untung dan pasukannya menerobos prajurit Mataram, secara serentak mereka memberi kesempatan kepada Untung keluar dari Babirong. Untung Suropati segera bergerak menuju kraton, sepanjang perjalanan prajuritnya mengamuk dan membakar rumah-rumah penduduk. Kobaran api semakin merajalela di setiap tempat, Kartasura berubah menjadi lautan api yang sangat mengerikan.

Kapten Tack sangat bingung menghadapi situasi yang bergerak sangat cepat. Api terus berkobar di mana-mana, udara di belakang kraton berwarna merah karena cahaya api yang membara di kampung Babirong. Asap tebal kehitaman bergumpal memenuhi angkasa dan di beberapa tempat terjadi pertempuran hebat. Tiba-tiba dari arah timur kraton Adipati Cakraningrat dan pasukannya berlarian menghampiri Kapten tack. Sang Adipati menuturkan bila Untung sedang mengamuk dan pasukan Madura tidak mampu menanindingi. Kapten tack segera menyiapkan pasukannya di luar alun-alun Kartasura. Van Vliet menunggang kuda menuju ke dalam kraton untuk menemui Sri Sunan. Ketika Van Vliet bertemu Kanjeng Sunan, beliau mengatakan baru saja datang dari bepergian dan belum mengetahui kejadian yang menimpa kerajaannya. Sunan juga mengaku tidak tahu-menahu di mana Untung Suropati berada. Van Vliet sangat kecewa dan segera kembali kepada pasukannya.

Untung Suropati menyerang Loji kompeni yang berada di sebelah barat alun-alun, puluhan mayat serdadu kompeni bergelimpangan. Prajurit Mataram dan serdadu kompeni mengepung pasukan Untung dan memaksa agar menyerahkan diri. Untung pantang menyerah, dengan segala kekuatannya dia menerobos pasukan musuh dan menyeberangi sungai menuju ke tengah alun-alun. Pertempuran sangat dahsyat berkobar di alun-alun Kartasura. Serdadu kompeni menembaki Untung dengan bedil, namun peluru itu mampu melukai tubuhnya. Seorang prajurit dari Madura menusuk Untung dengan tombak dari belakang, Untung hanya tersenyum karena tombak itu patah ketika menyentuh kulitnya. Dalam pertempuran itu  sangat sulit membedakan siapa kawan dan siapa lawan, karena secara diam-diam prajurit Mataram juga ikut menyerang serdadu kompeni.

Dengan membawa tombak Kyai Plered, Pangeran Puger dan pasukannya ikut terjun dalam pertempuran. Pasukan kompeni tidak mampu menahan serangan lawan yang datang dari semua penjuru. Serdadu kompeni tercerai berai, mereka berhamburan meninggalkan medan laga untuk menyelamatkan diri. Kapten Tack menemui ajal di ujung tombak Kyai Plered. Seluruh sisa-sisa serdadu yang tertinggal dihabisi oleh prajurit Mataram  Pertempuran yang penuh rekayasa itu berakhir dengan kekalahan di pihak kompeni. Kapten Tack, Van Vliet, Letnan Van der Meer, Letnan Vonk dan sejumlah 1255 serdadu kompeni tewas mengenaskan.

Setelah peperangan usai, di dalam kraton diadakan pertemuan penting yang dihadiri  Kanjeng Sunan Amangkurat, Pangeran Adipati Anom, Pangeran Puger, Patih Nerangkusumo dan Untung Suropati. Mereka membicarakan tentang masa depan Kartasura setelah terjadi peperangan. Sri Sunan bersabda agar kedudukan Mataram tidak terancam sebaiknya Untung Suropati dan Nerangkusumo meninggalkan Kartasura, sebab kompeni sudah mengetahui perbuatan mereka. Kanjeng Sunan menganugerahkan Kadipaten Pasuruan beserta seluruh wilayahnya kepada Untung Suropati untuk dijadikan sebuah pemerintahan baru. Saat itu Pasuruan sedang dikuasai oleh para pemberontak yang membangkang kepada Kartasura. Selain itu Untung Suropati juga dianugerahi nama Tumenggung Wironegoro.

Menabur Bakti Di Kartasura

Standar

Setiap hari Senin di alun-alun diadakan pertunjukkan sodoran, yang ikut bermain perang-perangan adalah para pemuka kraton. Masing-masing peserta menunggang kuda dan mengenakan pakaian gemerlap. Kanjeng Sunan beserta para pembesar kerajaan selalu hadir menyaksikan pertunjukkan itu dari sitinggil. Permainan segera dimulai, para peserta berpasang-pasangan menunggang kuda sambil bertempur. masing-masing berusaha menjatuhkan lawan dari kudanya. Dalam permainan itu ada seorang peserta yang tidak terkalahkan, gerakannya sangat tangkas dan siapa saja yang mendekat pasti dapat dijatuhkan. Orang itu adalah Untung Suropati, dia ikut dalam permainan atas perintah Nerangkusumo dengan tujuan agar Kanjeng Sunan dapat menyaksikan  ketangkasan pemuda itu dalam bertempur.

Setelah acara sodoran berakhir, Patih Nerangkusumo membawa Untung menghadap Baginda. Beliau menceritakan sejarah Untung sepanjang yang diketahuinya. Selanjutnya Nerangkusumo mohon agar Untung beserta pengikutnya diangkat sebagai prajurit Mataram. Kanjeng Sunan tertarik dengan penampilan Untung sehingga beliau berkenan mengabulkan keinginan Patih Mangkubumi, namun Untung tidak langsung dijadikan sebagai prajurit Mataram. Untuk sementara mereka diangkat menjadi pasukan khusus pengawal Sri Sunan. Dengan cara seperti itu Kanjeng Sunan dapat mengetahui dengan jelas kemampuan Untung Suropati yang sebenarnya.

Setelah Untung diterima sebagai prajurit pengawal, Kanjeng Patih mengutarakan lagi satu rencananya. Agar Untung Suropati secara lahir batin mengabdi untuk kepentingan Mataram, Nerangkusumo berniat menjodohkan Untung dengan Gusik Kusumo. Meskipun Nerangkusumo yang merawat Gusik Kusumo sejak kecil, tapi putri itu dalah kemenakan Sunan Amangkurat, jadi Kanjeng Patih wajib minta restu kepada beliau. Kanjeng Sunan menyerahkan sepenuhnya kepada Nerangkusumo, tetapi beliau berpesan agar dapat menjaga rahasia serapi mungkin. Lambat laun kompeni pasti mengetahui dan datang ke Kartasura untuk menangkap Untung Suropati.

Patih Nerangkusumo menuturkan permasalahan itu kepada putrinya. Meskipun agak malu-malu Raden Ayu Gusik Kusumo tidak menolak keinginan ayahandanya, terlebih lagi sebenarnya dia juga sudah menaruh hati kepada Untung Suropati. Atas perkenan Gusti Allah, pada tahun 1864 Raden Ayu Gusik Kusumo dan Untung Suropati dinikahkan. Pesta pernikahan berlangsung sangat meriah. Semua tamu yang hadir mengelu-elukan kecantikan Gusik Kusumo dan ketampanan Untung Suropati. Kanjeng Sunan Amangkurat yang hadir dalam pesta itu tersenyum bahagia, disertai harapan semoga kelak Untung Suropati benar-benar dapat diandalkan sebagai kekuatan Mataram.

Kanjeng Sunan Amangkurat sangat menyayangi Untung Suropati dan istrinya, sehingga beliau berkenan memberikan ganjaran berupa kampung Babirong kepada Untung sebagai tempat tinggal dan persembunyian dari pengawasan kompeni. Di kampung Babirong para pengikut Untung Suropati setiap hari berlatih kemiliteran. Mereka semua sadar bila sewaktu-waktu akan datang serangan dari kompeni, sehingga dari hari ke hari mereka terus giat berlatih tanpa mengenal lelah.

Lokasi kampung Babirong berada di sebelah barat daya kraton Kartasura. Kampung itu dikelilingi papringan (rumpun bambu) yang sangat lebat dan tanahnya naik-turun seperti daerah pegunungan. Karena kondisinya penuh dengan semak belukar, banyak babi (celeng) bersarang di sana. Mungkin itulah yang menjadikan daerah itu dinamakan Babirong, artinya sarang celeng. Pada jaman Sunan Pakubuwono I bertahta di Kartasura, kampung Babirong diubah fungsinya menjadi pesanggrahan (tempat peristirahatan) yang di dalamnya dipelihara ribuan menjangan. Di tempat tersebut juga dibangun segaran (danau buatan) sehingga pemandangannya menjadi sangat mempesona. Kampung Babirong berubah menjadi lahan berburu bagi Raja dan keluarga bangsawan. Dalam berburu biasanya mereka memasang grogol (perangkap binatang), sehingga tempat yang semula bernama Babirong berganti nama menjadi Grogolan. Setelah Indonesia merdeka tempat tersebut digunakan sebagai markas Kopassus Group 2 Kartasura.

Berita keberadaan Untung Suropati akhirnya terdengar di Batavia, Gubernur Jendral sangat marah dan menuduh Sunan Amangkurat  melindungi seorang musuh kompeni. Tahun 1685 kompeni mengangkat Kapten Tack dan Van Vliet sebagai utusan istimewa ke Kartasura. Dengan disertai serdadu dalam jumlah besar mereka berdua berangkat ke Kartasura menggunakan kapal perang dan bersandar di Jepara kemudian melanjutkan perjalan ke Semarang melalui jalan darat.

Kanjeng Sunan dan para petinggi Kartasura berunding untuk menghadapi kedatangan Kapten Tack. Mereka berniat melawan kompeni tetapi tidak secara terang-terangan. Patih Nerangkusumo mengajukan siasat pertempuran kepada Kanjeng Sunan, yakni Untung Suropati dan pasukannya digunakan sebagai umpan untuk menghancurkan pasukan kompeni yang masuk ke Kartasura. Pada tahap awal Untung dibuat seolah-olah memberontak Mataram, kemudian Adipati Cakraningrat bertugas melawan pasukan Untung Suropati. Kompeni diperintahkan membantu Cakraningrat yang berpura-pura kalah perang. Setelah terjadi pertempuran besar, seluruh kekuatan Mataram dikerahkan untuk menghancurkan serdadu kompeni. Para petinggi kraton sepakat dengan rencana itu, masing-masing petinggi mendapat tugas sesuai dengan kewenangannya.

Romantika Untung Suropati

Standar

Beberapa saat lamanya Untung tinggal di Cirebon, hingga pada suatu hari Kanjeng Sultan menyarankan agar Untung meneruskan perjalanan ke Kartasura. Sultan khawatir kompeni akan menyerang Cirebon, sementara kondisi kesultanan tidak memungkinkan melakukan perlawanan. Cirebon adalah kerajaan yang hanya memiliki prajurit dalam jumlah terbatas. Di Kartasura Untung akan mendapat pengayoman karena Kartasura memiliki prajurit yang sangat besar. Ayah angkat Gusik Kusumo adalah Patih Mangkubumi. Untung Suropati memahami hal itu, sebenarnya dia bersama kawan-kawannya juga sudah berencana meninggalkan Kesultanan Cirebon. Mereka terpaksa bertahan di Cirebon karena menunggu keputusan Gusik Kusumo.

Pada waktu yang hampir bersamaan Gusik Kusumo mengutarakan niatnya untuk pulang ke Kartasura. Sang Putri sudah sangat rindu kepada keluarganya di Mataram dan harus secepatnya diberitahu kalau dirinya sudah bercerai dengan Pangeran Purbaya. Pernikahannya dengan Purbaya dulu adalah atas kehendak Sunan Amangkurat, jadi apapun yang terjadi harus dilaporkan ke Mataram. Kanjeng Sultan memberikan perbekalan yang cukup untuk keberangkatan mereka. Beliau juga mengijinkan orang-orang Bali, Madura dan Makassar yang hidup bergelandangan di Cirebon bergabung dengan Untung Suropati. Setelah berpamitan kepada Kanjeng Sultan, rombongan Untung dan Gusik Kusumo meninggalkan Cirebon dengan perasaan sangat terharu.

Perjalanan yang sangat jauh dan melelahkan itu dilalui dengan semangat yang tinggi, sebab mereka semua mempunyai harapan yang besar untuk dapat hidup bahagia lahir batin. Selama dalam perjalanan Gusik Kusumo selalu memperhatikan tindak-tanduk Untung Suropati. Terkadang dia berkhayal kalau saja suaminya dulu memiliki jiwa satria yang berani menentang kompeni, tentulah akan sangat berbahagia. Dalam hati wanita itu mulai tumbuh perasaan lain tiap kali menatap wajah Untung Suropati, namun dia berhasil menguasai perasaan itu.

Untung Suropati sampai di desa Ajibarang, masih termasuk wilayah Banyumas. Penduduk desa menyambut kedatangan mereka dengan ramah. Sebagian penduduk Ajibarang menuturkan kalau Banyumas sedang diduduki gerombolan pemberontak. Bupati Banyumas tidak mampu menghadapi pemberontakan itu dan terpaksa lari meninggalkan kota. Gusik Kusumo mengajak Untung dan kawan-kawannya menumpas pemberontakan itu. Sebagai anggota keluarga kraton Kartasura, Gusik Kusumo wajib menjaga kewibawaan Mataram. Untung Suropati tidak keberatan memenuhi permintaan Gusik Kusumo. Hanya dalam waktu singkat saja pemberontakan tersebut sudah dapat dikalahkan. Setelah pemberontakan dipadamkan, Bupati Banyumas diajak ke Kartasura agar melaporkan kondisi wilayahnya kepada Sunan Amangkurat.

Rombongan Untung Suropati sampai di Kartasura dengan selamat. Alun-alun Kartasura tampak sangat anggun memancarkan kewibawaan. Di sebelah utara membentang sungai Jenes yang dalam dan jernih airnya. Sungai Jenes memanjang bagai ular melingkar tepat di sebelah barat dan bermata air di kawasan Pengging. Sepanjang tepian sungai terhampar pereng (tanah miring) sangat luas, sehingga alun-alun dan kraton berada pada tempat yang lebih tinggi dari sekitarnya. Sepasang ringin kurung berdiri kokoh sebagai simbol pengayoman dan keperkasaan. Alun-alun kartasura juga dihiasi dengan dua buah blumbang (kolam) penuh dengan air jernih dan ditumbuhi bunga teratai. Kolam itu diberi nama Blumbang Sari dan Blumbang Rejo. Berbagai kembang warna-warni bertebaran rapi di tepian alun-alun menjadi pesona yang tidak terkira. Di sebelah barat benteng kraton ditanami pohon pucang tak terbilang jumlahnya, sehingga kalau siang hari udara di dalam kraton terasa sangat sejuk.

Kedatangan Untung Suropati di Kartasura disambut dengan suka cita sebab Gusik Kusumo adalah putri angkat Patih Nerangkusumo. Untung Suropati beserta kawan-kawannya diterima sebagai tamu kehormatan di Mangkubumen. Gusik Kusumo menceritakan semua pengalamannya hingga sampai bertemu dengan Untung dan pengikutnya. Apabila tidak ada Untung dan kawan-kawannya, tentulah Gusik Kusumo tidak dapat pulang ke Kartasura dengan selamat. Kanjeng patih prihatin atas nasib putrinya, namun beliau pasrah kepada kehendak Gusti Yang Maha Berkuasa. Beliau merasa berhutang budi kepada Untung, Kanjeng Patih berjanji akan mengabdikan Untung Suropati kepada kanjeng Sunan Amangkurat.

Sejak Sunan Amangkurat memerintah Mataram dan menandatangani kontrak dengan kompeni, kedudukan beliau semakin terjepit. Banyak hal yang membuat kecawa Kanjeng Sunan. Penyerahan Cirebon kepada kompeni membawa akibat terpisahnya kasultanan itu dari Mataram yang berarti upeti dari Cirebon tidak lagi masuk ke Kartasura. Hutang kerajaan Mataram kepada kompeni sangat besar dan memberatkan keuangan negara. Rakyat Mataram banyak yang jatuh miskin akibat cicilan hutang yang harus dibayarkan kepada Belanda. Kanjeng Sunan sangat cemas setiap kali seorang pembesar kompeni datang ke Kartasura, beliau mengkhawatirkan kedatangan pembesar tersebut untuk menyita kekayaan kraton akibat beban hutang yang tidak terbayar.

Kompeni sangat berjaya karena menjadi pemegang monopoli perdagangan yang dilakukan di seluruh daerah Mataram. Para residen kompeni yang ditempatkan di daerah-daerah pesisir sangat menikmati kemakmuran yang melimpah. Rata-rata mereka sangat haus uang dan sering menyalahgunakan kekuasaannya untuk mengisi kantongnya sendiri. Para residen memiliki hak untuk memungut bea dari semua barang-barang yang masuk melalui pelabuhan-pelabuhan di pesisir utara tanah Jawa. Pemungutan itu membuka pintu seluas-luasnya untuk menindas rakyat Mataram.

Pembangunan benteng dan penempatan sejumlah serdadu kompeni di Kartasura telah nyata-nyata merongrong kedaulatan Mataram. Sejak semula penempatan serdadu itu dikatakan untuk melindungi Mataram, tetapi kenyataannya mereka adalah para mata-mata yang setiap saat mengintai seluk-beluk kegiatan pejabat kraton. Persahabatan Mataram dengan kompeni hanyalah persahabatan palsu yang hanya mebawa kerugian rakyat Jawa. Dalam hati Kanjeng Sunan Amangkurat dan para pejabat kraton muncul kebencian kepada kompeni, namun mereka tidak berani mengungkapan secara terbuka. Kondisi Mataram apabila diibiratkan seperti api di dalam sekam, sewaktu-waktu pasti akan membara dalam wujud perlawanan dahyat.

Asal-Usul Untung Suropati

Standar

Untung Suropati

Untung Suropati lahir di Pulau Bali, nama aslinya Surawiroaji.

Tersebutlah seorang pemuda bernama Untung, salah seorang narapidana yang menghuni penjara di Batavia. Sebelumnya dia seorang budak yang dipelihara keluarga Belanda sejak masih berumur tujuh tahun. Konon Untung  dipenjara  karena berani melawan majikannya. Sebenarnya Untung berasal dari keluarga bangsawan Bali yang menjadi tawanan perang serdadu Belanda dan dibawa ke Makassar. Setelah Untung berada di Makassar, Kapten Van Beber membawanya ke Batavia kemudian dijual sebagai budak kepada seorang saudagar Belanda. Karena sejak kecil sudah berpisah dengan keluarganya, maka tidak ada orang yang mengetahui riwayat asal-usulnya. Nama Untung itu sendiri adalah nama paraban (alias) yang diberikan oleh majikannya, nama garbhopati (nama sejak lahir) yang diberikan orang tuanya adalah Surawiroaji.

Menurut silsilah keluarganya Surawiroaji alias Untung adalah anak dari Jatiwiyasa, seorang keluarga bangsawan di Bali. Kakeknya bernama Tirtawijaya Sukma anak dari Karma Pujanggabuana anak dari Resi Mertadharma anak dari Sarataleksi anak dari Bharata Darwa Muksa anak dari Satya Putralaksana anak dari Kuwu Wika Kertaloka anak dari Prahma Putra Reksa anak dari Resi Wuluh Sedyaloka. Orang Jawa menyebut Resi Wuluh Sedyaloka dengan nama Begawan Sidolaku, sastrawan terkenal dari Tabanan Bali. Ketika masih muda Raden Ronggowarsito (Pujangga kraton Surakarta) pernah belajar ke Tabanan untuk mempelajari kitab kasusastraan peninggalan Resi Wuluh Sedyaloka.

Resi Wuluh Sedyaloka adalah keturunan Prabu Kertajaya, raja terakhir Panjalu (Kediri) yang dikalahkan oleh Ken Arok pada tahun 1222. Ketika pasukan Ken Arok menyerbu istana Kediri, Prabu Kertajaya berhasil melarikan diri dengan diiringkan ketiga istri dan beberapa abdi saja. Raja yang malang ini bersembunyi di lereng Gunung Semeru dan akhirnya menjadi seorang pertapa. Tidak lama berselang Ken Arok mencium keberadaan Prabu Kertajaya, maka ditugaskan bala tentaranya untuk menangkap lawan politiknya tersebut. Prabu Kertajaya berhasil lolos dalam pengejaran hingga akhirnya menemukan tempat yang aman di Pulau Bali. Prabu Kertajaya mendapat perlindungan dari penguasa di pulau dewata sebab antara raja Jawa dan Raja Bali masih memiliki hubungan darah.

Jadi apabila dirunut ke atas, leluhur Untung adalah gabungan dari wangsa Dharmodayana (Prabu Udayana) yang berkuasa di Bali dan wangsa Isana (Empu Sindok) yang berkuasa di tanah Jawa. Wangsa Isana adalah kelanjutan dari wangsa Syailendra yang mendirikan kerajaan Mataram (Medang Kamulan) di lereng barat daya gunung Merapi.

Untung seorang pemuda berwajah tampan dan halus tutur katanya. Dia sangat pemberani namun berhati mulia, sehingga selama di dalam penjara sangat disegani kawan-kawannya. Pada suatu kesempatan Untung memimpin para narapidana melakukan perlawanan kepada penjaga penjara. Penjara berhasil dijebol, berbagai senjata dirampas dan dibawa kabur. Kompeni mengirimkan serdadu untuk menangkap mereka, tetapi upaya itu tidak membuahkan hasil. Untung dan pengikutnya justru membunuh beberapa serdadu yang mengejarnya. Kompeni semakin marah kepada Untung dan terus-menerus melakukan pengejaran.

Di tengah perjalanan Untung bertemu dengan janda Pangeran Purbaya yang bernama Raden Ayu Gusik Kusumo, mereka saling memperkenalkan diri serta menceritakan riwayat masing-masing. Gusik Kusumo terpaksa bercerai dengan Pangeran Purbaya karena suaminya akan menyerahkan diri kepada Belanda, wanita tersebut tidak  menyetujui niat suaminya. Sementara Untung menceritakan kalau dirinya menjadi buronan serdadu kompeni karena melarikan diri dari penjara bersama teman-temannya. Setelah saling mengetahui riwayatnya, mereka menyatakan keinginannya bersatu untuk melawan  kompeni.  Gusik  Kusumo  mengajak  Untung dan pengikutnya mencari perlindungan ke Kasultanan Cirebon, karena Sultan Cirebon masih mempunyai hubungan keluarga dengannya. Setelah dipikir dengan matang, Untung menyambut baik ajakan tersebut, mereka segera bergerak menuju Cirebon.

Sultan Cirebon sangat gembira menerima kedatangan Gusik Kusumo dan seluruh teman-temannya. Wanita itu menceritakan semua peristiwa yang dialami, mulai dari kepergiannya meninggalkan suami sampai pertemuannya dengan Untung. Kanjeng Sultan sangat prihatin akan nasib keponakannya, tetapi beliau juga bangga. Meskipun seorang wanita, Gusik Kusumo tidak gentar melawan kompeni. Sebagai ungkapan terima kasih kepada Untung yang sudah mengawal keponakannya, Untung dianugerahi nama Suropati oleh Sultan Cirebon, sehingga namanya menjadi Untung Suropati. Dalam ajaran Jawa-Hindu nama Suropati adalah sebutan lain dari Bathara Endra, yakni rajanya para dewa.