Inilah Surodipo

Surodipo

Nama Surodipo tersebar di berbagai pelosok,  dan kerap dihubungkan dengan Kasultanan Yogyakarta pada paruh pertama abad 19. Peristiwa perang jawa tahun 1825-1830 adalah momentum yang melambungkan namanya. Surodipo seolah menjadi magnit yang menyedot perhatian sebagian orang sejak jaman Sultan Hamengkubuwono II sampai abad sekarang, bahkan di dunia maya juga lahir situs yang mengusung nama Surodipo. Mungkin saja Surodipo yang mereka maksudkan berbeda dengan Surodipo dalam tulisan ini, tetapi hal itu setidaknya akan mengingatkan orang tentang Surodipo yang berkiprah dalam perang jawa.

Beragam alasan orang membicarakan Surodipo, ada yang memundhi sebagai trah (keturunan), ada yang ngabekti sebagai siswa perguruan, ada yang nguri-uri sebagai  sejarah perjuangan dan bermacam alasan logis lainnya.  Tetapi tidak sedikit (malah teramat banyak) yang justru membencinya karena membaca sepak terjangnya yang kontroversial. Siapakah sebenarnya  sosok Surodipo ?

Surodipo adalah keturunan ke tujuh Untung Suropati,  sekaligus keturunan ke delapan Adipati Trunojoyo. Sebagai trah pemberontak kolonial, sudah pasti Surodipo mewarisi karakter leluhurnya, apalagi hampir sebagian besar leluhurnya gugur di medan tempur melawan serdadu kompeni. Yang menjadi persoalan adalah Surodipo hidup di tengah-tengah kekuasaan Mataram (Ngayogyakarta) dan Gupermen Belanda/Inggris. Kondisi tersebut memaksa Surodipo menggunakan akal dan okol untuk meneruskan perjuangan. Dan hasilnya meletus perang jawa yang menggerogoti keuangan kompeni. Tidak dapat dipungkiri korban yang jatuh sangat besar, Pangeran Diponegoro harus menerima takdir di tanah pengasingan. Di sisi lain Surodipo harus berbesar hati karena tercatat sebagai pelaku sejarah yang penuh kontroversi : Patih Danurejo IV.

Tanpa bermaksud menyalahkan pihak manapun, Blog Jagad Surodipo ini hanyalah secuil usaha untuk mencoba mengurai kisah-kisah kusut yang terselip di antara puing-puing perang jawa. Tipu daya dan rekayasa adalah hal yang biasa guna memenangkan peperangan. Dan sayangnya sebesar apapun tipu daya bangsa Jawa, kompeni Belanda mampu mengalahkan dengan segudang kelicikannya. Selamat menikmati.

12 Komentar

  1. April 29, 2009 pada 1:14 am

    Sebetulnya kita diadu domba sama belanda..

  2. Mei 19, 2009 pada 9:20 am

    Masa lalu memang membius pahit & getir kadang-kadang manis, congkak.. cethil.. sombong.. angkuh.. itu sudah bawaan dari lahir
    tak seorangpun bisa mengubahnya.

  3. Joko Hs. berkata,

    Februari 20, 2010 pada 4:29 pm

    Walaupun Eyang Danurejo adalah tokoh kontroversial saat itu, tapi saya tetap bangga sbg keturunannya. Krn beliaulah cikal bakal yang menurunkan generasi saya. Atas izin Allah SWT, tanpa beliau saya tidak akan ada sekarang ini.

  4. Panggah berkata,

    Maret 28, 2010 pada 10:34 am

    Pak Sudra menarik uraian panjenengan ttg tokoh Surodipo sahabat seperjuangan P Diponegoro. Apakah pajenengan punya info sejarah dimana Suradipo bermukim dan akhirnya meninggal. Karena di kampung sy di Temanggung Utara dilereng G Perahu ada cerita masyarakat dikampung tsb, yg meyakini tokoh Surodipo melarikan diri, bermukim dan akhirnya meninggal di Desa di lereng G Prahu tsb stlh Diponegoro menyerah di Magelang melalui tipu daya Belanda. Skrg Pemda Temanggung mengabadikan tokoh Surodipo sbg nama Curug (air terjun) Surodipo dan pemakamanya di desa tsb sbg daerah tujuan wisata utama di Temanggung. Maturnuwun sanget.

    Sudradiningrat : Saya menjawab via email pak.

  5. Dicky Suryadinata berkata,

    Mei 4, 2010 pada 6:58 am

    minta penjelasan…..ayah saya punya silsilah…..dari eyangnya nyai joyosentiko…….dan makamnya pun di karang anyar gombong….dan di situ…ada juga bersebelahan….makam ki wirodipo…..yang saya tanya apakah…..ki wirodipo…juga bernama surodipo……terima kasih….mudah mudahan…..saya mendapat jawaban yang pasti……

    Sudradiningrat : Nyuwun pangapunten, babagan menika kula dereng gadhah seserepan. Nuwun

  6. edi berkata,

    Juli 13, 2010 pada 5:15 am

    buyut saya adalah sosok yang saya banggakan, seorang laskar diponegoro. dari cerita tentang beliau, saya jadi tau, bahwa ada banyak nama surodipo. suro = berani, dipo = banteng. bermakna seorang yang berani menghadapi banyak masalah seperti banteng.
    ada surodipo pahlawan, ada juga surodipo penghianat. setiap orang bebas memberi nama anaknya, dan boleh memberi gelar sesuai sikon juga. kita bisa tau, di jogja, ada berapa nama suyanto, sumarno, dll.
    Jadi, setiap petilasan/ persinggahan , bukan berarti bekas pesanggrahan orang yang sama.

    Sudradiningrat : Inggih, penjenengan leres pak. Matur nuwun kerawuhanipun.

  7. didik berkata,

    Juli 14, 2010 pada 3:48 pm

    Berdasarkan Kamus Kawi-Jawa karya CF. Winter dan Ronggowarsito, Surodipo=Suropati, adalah nama julukan Bathara Endra (raja para dewa). Jika kata tersebut dipisah Suro=berani, prajurit. Dipo=ratu, padhang, madhangi, sorot, bening.
    Terjemahan dari mas Edi kurang pas lho…

    Sudradiningrat : Jempol kalih kagem mas Didik.

  8. Joko Hamsa berkata,

    September 17, 2010 pada 5:15 pm

    Menurut petunjuk yang saya terima, makam Eyang Danuredjo itu adanya di daerah Pasar Kliwon Solo

    Sudradiningrat : matur nuwun informasinipun.

  9. ridwan winardi berkata,

    Mei 1, 2011 pada 8:43 am

    makamnya mbah Surodipo ada di desa saya,
    Hub:081805855078

  10. anonim berkata,

    November 21, 2011 pada 2:03 pm

    @Joko Hs: Eyang surodipo mempunyai sebuah pedang, jika memang benar eyang surodipo adalah kakek anda, apakah anda pernah melihat salah satu pedang nya?
    Sebutkan ciri2nya beberapa saja.

    @Joko Hs: Apakah Anda kenal dengan Wagiman sidodaren/yogyakarta. Karena beliau anak dari eyang surodipo sebagai subjek dalam blog ini
    Mohon pencerahan…

    Ditunggu…

  11. anonim berkata,

    November 21, 2011 pada 3:45 pm

    Kepada penulis yang terhormat dari mana sumber anda?

    Sudradiningrat : Saya mencari data dari berbagai sumber, dan sampai saat ini juga terus melakukan penelusuran. Saya akan sangat berterima kasih apabila penjenengan punya informasi dan sudi berbagi. Soal Benar atau Salah itu hal yg biasa, krn tdk ada tafsir sejarah yang 100% benar. Bukankah kt hidup tdk dalam satu masa dg sejarah tsb?

  12. wahyu berkata,

    Januari 8, 2012 pada 1:55 pm

    Pak Sudra, saya usul tulisan Surodipo ini diterbitkan menjadi buku, shg ceritanya komplit dan tdk terpotong-potong.


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

Gravatar
WordPress.com Logo

Please log in to WordPress.com to post a comment to your blog.

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.